Selasa, 19 Agustus 2008

Hukum Celana Laki2

Celana Laki laki: Di Atas Mata Kaki ?
Banyak sekali orang yang berdalih, bahwa memakai pakaian dibawah mata kaki ASALKAN TIDAK SOMBONG tidak apa-apa! Benarkah demikian?

DALIL-DALIL BAB PAKIANNYA LAKI-LAKI

BAB PAKIANNYA LAKI-LAKI:


1. (HR:Bukhori) “Dan bersabda siapa Nabi s.w.a :Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan sodaqohlah pada selain berlebihan dan jangan sombong. Dan berkata Ibnu Abas: Makanlah apa-apa yang engkau kehendaki selagi tidak menyalahi engkau pada 2 perkara (1) Isrof (berlebihan) (2) atau sombong.”
2. (HR:Bukhori 5783) “Dari Ibni Umar r.a sesungguhnya Rosulalloh s.a.w bersabda: Tidak akan melihat siapa Alloh pada orang yang menyeret (melembrehkan) pakaiannya dengan sombong”.BAB MELEMBREHKAN PAKAIAN DARI SELAIN SOMBONG:

1. (HR:Bukhori 5784) “Nabi bersabda: Barangsiapa yang melemberhkan pakaiannya dengan sombong maka Alloh tidak memandang padanya dihari Qiyamat, Abu Bakar berkata: Wahai Rosulalloh sesungguhnya salah satu dua sisi pakaianku melembreh, kecuali jika mempersungguh aku (menaikkan/jw.ngunjukne) aku demikain itu pakaian, dari melembreh ? Bersabda Nabi: Tidak ada engkau (Abu Bakar) dari orang yang melakukan sombong”.

BAB APA-APA YANG LEBIH BAWAH DARI MATA KAKI MAKA DIA DIDALAM NERAKA:

1. (HR:Bukhori 5787) ” Dari Abi Huroiroh r.a. dari Nabi s.a.w, bersabda Nabi: Apa-apa yang lebih bawah dari mata kaki maka dia didalam neraka”.

BAB ORANG YANG MELEMBREHKAN PAKAIANNYA DARI SOMBONG.

1. (HR:Bukhori 5788) “Dari Abi Huroiroh sesungguhnya Rosululloh s.a.w bersabda: Alloh tidak melihat di hari Qiyamat pada orang yang melembrehkan pakaiannya dengan sombong”.
2. (HR:Bukhori 5791) “Rosul s.a.w bersabda: Barangsiapa yang menyeret (melembrehkan) pakaiannya dengan sombong maka Alloh tidak akan melihat padanya dihari qiyamat” aku (Su?bah) bertanya pada Uharibin: Apakah Abdillah bni Umar menuturkan tentang pakaian bawahnya? Muharibin menjawab: Tidaklah mengkhususkan pada pakaian bawah dan juga qomis”.
3. (HR:Bukhori 3573) “Dari Abih, dia berkata: Aku berkata kepada Abi Saidin, adakah engkau mendengar dari Nabi s.a.w tentang sesuatu didalam pakaian? Said menjawab: Ya. Aku (Said) mendengar dari Rosul s.a.w, beliau bersabda: Pakaian bawahnya orang iman itu sampai setengah betis, tidaklah dosa jika dia memakai antara 2 mata kaki, dan apa-apa (Pakaian bawah) yang lebih dari 2 mata kaki, dalam neraka; Nabi bersabda 3 kali, Alloh tidak melihat pada orang yang menyeret pada pakaian bawahnya karena sombong.
4. HR:Bukhori 3574) “Dari Mughiroh ibnu Syu?bah, berkata dia: Rosululloh bersabda: Ya Sufyan ibna Syahlin, janganlah kamu melembrehkan (pakaian) karena Alloh tidak senang kepada orang yang melembrehkan pakaian.”

BAB TEMPATNYA PAKAIAN BAWAH:

1. (HR:tirmidzi 1783) “Dari Hudaifah dia berkata: Nabi memegang pada pentholan kentolku atau betisnya Nabi sendiri, Nabi bersabda: Ini tempatnya pakaian bawah, maka jika kamu menolak, maka yang lebih bawah (lebih bawah dari kentol); maka jika kamu menolak maka tidak ada hak bagi pakaian bawah didalam 2 mata kaki (tidak boleh dibawah mata kaki). (Hadist Hasan Soheh).

BAB ORANG YANG MELEMBREHKAN PAKAIAN DARI SOMBONG

1. (HR:Ibnu Majjah 3569) Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rosululloh bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang menyeret pakaiannya dari sombong, dia tidak dilihat oleh Alloh di hari kiamat.
2. (HR:Ibnu Majaah 3570) “Dari Abu Said berkata:Bersabda Rosululloh s.a.w: Barangsiapa yang menyeret pakaian bawahnya dari sombong, Alloh tidak melihat dia di hari qiamat”.
3. (HR:Ibnu Majaah 3571) “Dari Abi Salamah dari Abu Huroiroh, Abi Salamah berkata: Seorang pemuda qurais bersama Huroiroh, dia menyeret pada sebelah pakaiannya, maka Huroiroh berkata: Wahai anak laki-lakinya saudaraku, sesungguhnya aku mendengar dari Rosululloh s.a.w, beliau bersabda: Barangsiapa yang melembrehkan pakaiannya dari sombong, Alloh tidak melihat padanya dihari kiamat”.

BAB TEMPATNYA PAKAIAN BAWAH, DIMANA ITU?

1. (HR:Ibnu Majaah 3572)”Dari Hudaifah dia berkata, Rosul memegang pada bawahnya pentol betisku atau betisnya Nabi, Nabi bersabda: Ini adalah tempatnya pakaian bawah, maka jika kamu menolak, maka yang lebih bawahnya, maka jika kamu menolak, maka lebih bawahnya lagi, maka tidak ada hak bagi pakaian bawah didalam 2 mata kaki (menutupi mata kaki).

BAB TEMPATNYA PAKAIAN BAWAH:

1. (HR:Nasai 5344) “Dari Hudaifah dia berkata, bersabda Rosul s.a.w: Letaknya pakaian bawah sampai separuh 2 betis dan pentol betis, maka jika kamu menolak maka lebih bawahnya, maka jika kamu menolak, maka didalam belakangnya betis (lebih bawah lagi), maka tidak ada hak bagi 2 mata kaki didalam pakaian bawah. Dan lafal hadist ini dari Muhamad ibn Qodamah.
2. (HR:Nasai 5345) “Dari Abu Huroiroh, dia berkata: bersabda Rosul s.a.w: Apa-apa yang dibawah dari 2 mata kaki dari pakaian maka didalam neraka”.
3. (HR:Nasai 5346) “Dari Abu Huroiroh dari Nabi s.a.w, beliau bersabda: Apa-apa yang dibawah dari 2 mata kaki dari pakaian, maka didalam neraka”.

BAB MEMANJANGKAN (MELEMBREHKAN) PAKAIAN BAWAH

1. (HR:Nasai 5347) “Dari Ibni Abas, dari Nabi s.a.w, beliau bersabda: Sesungguhnya Alloh yang maha mulya dan maha agung, tidak melihat pada orang yang melembrehkan pakaian bawah”.
2. (HR:Nasai 5348) “Dari Abi Dzar, Rosul bersabda: 3 golongan yang tidak diajak bicara oleh Alloh di hari qiamat dan mereka tidak disucikan oleh Alloh, dan bagi mereka siksaan yang pedih: 1. Orang yang memngundat-undat(mengungkit-ungkit) dengan apa-apa yang telah dia berikan 2. Orang yang melembrehkan pada pakaian bawah 3. Orang yang berusaha agar daganganya laku dengan sumpah yang bohong.
3. (HR:Nasai 5349) Dari Ibni Umar berkata: bersabda Rosul s.a.w : Adapun melembrehkan pakaian dan qomis dan surban, barangsiapa yang melembrehkan darinya pada sesuatu karena sombong Alloh tidak melihat padanya dihari qiamat”.
4. (HR:Nasai 5350) Dari Abih sesungguhnya Rosul bersabda: Barangsiapa yang melembrehkan pakaiannya dengan sombong Alloh tidak melihat padanya dihari qiamat”. Abu Bakar bertanya: Ya Rosululloh sesungguhnya salah satu sisi dari pakaianku melembreh, kecuali jika mempersungguh aku dari mlorot (kecuali kalau aku naikkan)? Nabi menjawab: Sesungguhnya engkau bukanlah dari orang yang berbuat sombong”.

CATATAN: Banyak sekali orang yang berdalih, bahwa memakai pakaian dibawah mata kaki ASALKAN TIDAK SOMBONG tidak apa-apa! Benarkah demikian?

1. Orang tersebut tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “sombong” disini. Sombong disini memiliki pengertian “yahruju ani thoat” (tidak thoat), bukan seperti sombong yang biasa kita mengerti, yaitu memakai sesuatu yang hebat sambil pamer (jw. Gemblelengan, kemlinthi dll)
2. Orang tersebut membaca (mengerti)dalil hanya sepotong-sepotong, dan belum pernah membaca Hadist secara tuntas (lengkap), artinya hanya cuplikannya saja (seperti diatas) dan belum pernah mempelajari hadist secara kontekstual.
3. Orang tersebut hanya membaca salah satu Hadist misalnya Bukhori, dan belum pernah membaca Hadist lainnya seperti (Nasa?i), padahal sama-sama shohehnya.
4. Orang tersebut barulah sampai taraf mengerti agama tetapi belum faham agama
5. Alasan lain-lainnya yang sejenisnya.

source :azizalamin.blogspot.com/

Kamis, 14 Agustus 2008

Cinta Rasul

Cinta Rasul

Ada salah satu nasehat yang saya dengar di pengajian tadi malam yang sangat menarik perhatian saya. Pertama, karena termasuk jajaran hadist 'baru' buat saya. Dan kedua, waktu disampaikan, penyampainya tidak memberikan keterangan yang lebih detail (mungkin dilupakan mengingat waktu yang sudah hampir habis). Jadilah membuat penasaran untuk mengkaji lebih jauh.

Hadist tersebut diriwayatkan dari Abu An-Nashr dan Dailami. Suatu riwayat yang asing buat saya. Thus, saya juga tidak punya referensinya, sehingga semakin menambah penasaran saya. Arti hadist tersebut kurang lebih begini, “Ajarilah anak-anak kalian atas tiga perkara, (1) cinta Nabi kalian, (2) cinta kepada keluarganya Nabi, dan (3) membaca alquran, maka sesungguhnya pembawa Alquran itu di dalam naungannya Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya beserta para Nabi dan keluarga Nabi.”

Berkaca pada tema nasehat tsb yaitu menekankan masalah pembinaan usia dini, rasanya banyak yang harus kita lakukan. Menurut hadist di atas kelihatannya banyak orang tua yang belum mengajarkan masalah cinta kepada Nabi, apalagi keluarganya. Dan bagaimana bentuk cinta itu, kadang masih absurd buat kebanyakan kita. Kenapa saya katakan demikian? Nyatanya pada penyampaian dalil tersebut, penyampai (di tempat saya) tidak merinci dengan jelas bentuk dan cara mencintai Nabi dan keluarganya. Dan secara kontekstual hadist ini memang lebih menyorot pada poin ke 3 yaitu menguasai Alquran dan fadhilahnya. Oleh karena itu, perlu rasanya kita gali informasi bagaimana cara mencintai Nabi dan keluarganya, untuk kemudian kita bisa mengajarkannya.

Salah satu dalil yang sering saya dengar, awal-awal belajar mengaji dulu adalah begini,” Man ahya sunnatii faqod ahabbanii, waman ahabbani kaana ma’ii fil jannah - Barangsiapa yang menghidup-hidupkan sunnahku, sungguh dia cinta kepadaku. Dan barangsiapa yang mencintai aku maka dia akan bersamaku di surga.” (sayang saya belum menemukan referensinya). Bersandar pada dalil ini (jika tidak dhoif), setidaknya menjadi sedikit jelas bagaimana kita mencintai Nabi dan keluarganya. Masalahnya kita tidak lagi hidup sejaman dengan Nabi SAW. Mudah – mudahan dalil ini bisa menjadi acuan buat kita. Jadi konteks mencintai Nabi adalah dengan mengamalkan sunnah-sunnahnya. Terlebih di saat manusia yang lain meninggalkannya. Mulai dari apa yang dikerjakan Nabi, apa yang disetujui Nabi dan apa yang menjadi cita-cita (iqror) Nabi SAW. Inilah esensi cinta itu. Tapi bagaimana memulainya?

Pertama, di kita ada idiom tak kenal maka tak sayang. Jadi kenalkanlah kepada anak-anak kita nama Nabi kita SAW beserta gelarnya. Juga nama istri-istrinya, anak-anaknya dan cucu-cucunya. Saya berani bertaruh, banyak diantara kita yang belum kenal gelar Nabi SAW, apalagi nama kesembilan istrinya. Pun kelima anaknya dengan Khadijah. Jadi proses pengenalan ini saya anggap penting juga dalam rangka mencintai Nabi SAW dan keluarganya. Bisa lewat cerita – tutur tinular, dongeng pengantar tidur, tarikh islam atau cara lain yang inovatif. Dengan tahu nama, dengan kenal nama, diharapkan mampu menumbuhkan sikap ta’dhim terhadap Nabi SAW dan keluarganya. Irene Handono, mantan biarawati yang membelot jadi islam, sering menceramahkan, ”Banyak diantara kita umat islam yang kenal superman, batman, rambo, dora emon, dll, tapi jarang yang mengidolakan bahkan tak kenal siapa itu Hasan, Husen, Fathimah Az-Zahra, Khadijah, Ali dan sederet nama lain yang termasuk keluarga Nabi. Ironis, sungguh ironis.

Nabi mempunyai nama Ahmad atau Muhammad dengan 5 julukan baginya, selain Al-Amin yang beliau sandang sebelum menjadi Nabi.

Dari Mut'im r.a. katanya :
Rasulullah Saw bersabda : 'Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama: Aku Muhammad (yang amat dipuji), *Aku Ahmad (yang banyak memuji)*, Aku yang penghapus karena aku Allah menghapuskan kekafiran, Aku pengumpul yang dikumpulkan manusia dibawah kekuasaanku dan aku pengiring yang *TIADA KEMUDIANKU SEORANG NABIPUN*.(HR. Muslim)

Dari Abu Musa Al Asy'ari r.a. katanya :
'Pernah Rasulullah Saw menerangkan nama diri beliau kepada kami dengan menyebut beberapa nama: Aku Muhammad, *Aku Ahmad*, Aku pengiring dan pengumpul, Nabi (yang menyuruh) tobat dan Nabi (yang membawa) rahmat.' (HR. Muslim)

Adapun istri-istrinya, yang pertama Adalah Khadijah binti Khuwailid. Selanjutnya sepeninggal Khadijah, Nabi memiliki 9 istri dan 2 budak sebagai berikut:

Saudah binti Zum'ah
Aisyah binti Abu Bakar
Hafsah binti Umar Al-Khattab
Zainab binti Jahsyin
Zainab binti Khuzaimah
Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umaiyah)
Ummu Habibah (Ramlah binti Abi Sufian)
Maimunah binti Al-Harith
Shofiah binti Huyayyin
Juwairiyah
Mariyah Al-Qibtiyah

Adapun anak-anak Nabi (kesemuanya dari Khodijah) adalah sebagai berikut:

Al-Qasim
Abdullah
Zainab
Ruqaiyah
Ummu Kultsum
Fatimah
Ibrahim (dari Mariyah Al-Qibtiyah)

Kedua yang tak kalah penting adalah membacakan sholawat atas Nabi SAW dan keluarganya. Hal ini banyak disinggung dalam hadist dan merupakan bentuk konkret ujud cinta yang sebenarnya. Sholawat ini merupakan bentuk cinta yang tidak kenal masa dan usia. Siapa saja dan kapan saja bisa melakukannya untuk memanifestasikan rasa cinta dan senang kepada Nabi SAW beserta keluarganya. Bahkan sebutan bakhil pun disematkan bagi mereka yang tidak mau membaca sholawat Nabi. Sunan Tirmidzi meriwayatkan:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

... dari Ali bin Abi Tholib, berkata dia, bersabda Rasulullah SAW, ”Orang yang bakhil adalah orang yang ketika disebut aku di sisinya maka tidak mau membaca sholawat dia atasku.”

Bagaimana membaca sholawat? Ada yang panjang ada yang pendek, seperti bacaan sholawat pada tahiyat sholat. Dan itulah yang kita pakai untuk mewujudkan cinta Nabi dan keluarganya yaitu dengan membacakan sholawat di luar sholat, tentunya.

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ قَالَ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ قَالَ أَنَا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ وَقُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

…dari Musa ibnu Tholhah berkata dia, aku berkata pada Zaid ibnu Khorijah, dia berkata, aku bertanya pada Rasululah SAW, maka bersabda Rasulullah SAW membacalah sholawat kalian atasku dan mempersungguhlah kalian di dalam berdoa dan berkatalah Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. (Rowahu Sunan Nasaai, Kitaabu As-Sahwi)

Nah, baru yang ketiga secara keseluruhan kita bisa mengatakan berdasar dalil pertama di atas untuk mewujudkan cinta Nabi dan keluarganya yaitu menghidupkan sunah-sunahnya secara keseluruhan dan bertanggung jawab.


Ayo yoo… mulai yooo…… Udah kok ……..!!!! Alhamdulillah

By : Faizunal Abdillah ~ MilisJokam

Rabu, 09 Juli 2008

Tipe Wanita Menurut Quran Hadits

Tipe Wanita menurut Al-Qur'an

Ada sebuah ilustrasi menarik. Kalau kita masuk ke toko yang menjual pakaian wanita, pastilah kita akan mendapatkan begitu banyak pakaian dengan berbagai macam corak dan jenisnya. Pilihan, tentu sepenuhnya ada di tangan kita, tidak di tangan orang lain, karena kita yang akan mengenakan pakaian tersebut.

Begitu pun seorang wanita ketika berada di tengah-tengah masyarakat, ia bisa memilih tipe-tipe kepribadian yang disukainya. Tentang hal ini Alquran menjelaskan empat (4) tipe wanita.
Pertama, tipe wanita dengan kepribadian kuat. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah, istri Fir'aun. Walaupun berada dalam "cengkeraman" Fir'aun, ia tetap teguh menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah.

Allah SWT mengabadikan doanya dalam Alquran, ''Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS. At-Tahrim: 11).
Kedua, tipe wanita yang berusaha menjaga kesucian dirinya. Tipe kedua ini diwakili oleh Siti Maryam. Dalam Surat Maryam ayat 20 disebutkan bahwa Maryam adalah seorang wanita suci yang tidak pernah disentuh seorang lelaki pun.

Karena keutamaan inilah, Allah SWT berkenan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu surat dalam Alquran dan menjadikannya ibu dari seorang nabi yang agung.
Ketiga, tipe wanita penghasut, penebar fitnah, penggemar gosip, dan sangat buruk hatinya. Ia adalah Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjuluki wanita ini sebagai "pembawa kayu bakar" atau wanita penyebar fitnah dan permusuhan.
Allah SWT berfirman, ''Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa dan demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut.'' (QS. Al-Lahab: 1-5).

Dalam sejarah diceritakan bagaimana "kehebatan" Hindun dalam menyebarkan gosip dan fitnah tentang Rasulullah SAW. Hindun pun dikenal sebagai partner terbaik Abu Lahab untuk menghambat dakwah Islam.
Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan oleh Siti Zulaikha. Petualangan Zulaikha dalam menggoda Yusuf, dijelaskan dalam Alquran Surat Yusuf ayat 23, ''Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya, menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata, "Marilah ke sini,"
Walaupun para tokoh yang dikisahkan dalam Alquran tersebut hidup ribuan tahun yang lalu, tapi karakteristik dan sifatnya tetap abadi hingga sekarang.

Ada tipe wanita pejuang yang kokoh keimanannya. Ada tipe wanita yang tegar dalam menjaga kesucian dirinya. Ada tipe wanita penghasut, dan ada pula tipe wanita penggoda. Tinggal keputusan kita mau memilih yang mana. Memilih yang pertama dan kedua, maka kemuliaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan kalau memilih tipe ketiga dan keempat, enak memang karena nafsu terpenuhi, tapi lambat laun kehinaan dunia dan akhirat akan kita dapatkan.

Mudah2an semua wanita jokam bs menjadi mar'atus sholihah ... Amiin.

Senin, 14 April 2008

Qodar Rejeki

Semua manusia didunia ini ukuran rizqinya sudah ditentukan oleh Allah, ada yang diqodar jadi orang kaya, ada yang sedang dan ada yang miskin, semua yang sudah ditentukan oleh Allah dan semua itu ada hikmah dan manfaatnya bagi orang tersebut berdasarkan dalil-dalil berikut ini :

Allah membentangkan rizqi kepada hamba-hambanya dengan mengira-ngira sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu maha kuasa (Al Angkabut 62)
Allah memberi keutamaan pada sebagian dari kamu sekalian dalam rizqi (An Nahal 71)
Sesungguhnya Allah membagi akhlaq kamu sekalian sebagaimana Allah membagi rizqi diantara kamu sekalian.
Jika seandainya Allah membentangkan rizqi pada hambaNya niscaya dia durhaka dibumi akan tetapi Allah menurunkan dengan dikira-kira apa-apa yang Allah kehendaki sesungguhnya Allah dengan hamba-hambaNya maha waspada lagi maha melihat. (Asysyuro 27)
Sesungguhnya ada dari hamba-hambaKu yang tidak baik keimanannya kecuali dengan kaya, jika seandainya Allah memberi kefakiran kepadanya niscaya dia jadi kufur, dan sebaliknya ada dari hamba-hambaKu yang tidak baik keimanannya kecuali dengan fakir, jika seandainya Allah memberi kekayaan kepadanya niscaya dia jadi kufur (HR Khotib, fithirmizi). Jm supaya faham meskipun masalah rizqi itu sudah ada ketentuannya dan takarannya masing-masing tetapi manusia berkewajiban untuk ikhtiar / berusaha mencari rizqi Allah dengan sungguh-sungguh, giat, semangat diperhitungkan untung ruginya dengan cara yang baik, benar dan halal berdasarkan dalil-dali berikut ini:
Mencarilah disisi Allah rizqi dan menyembahlah kepadaNya dan bersyukurlah kepadanya dan kepada Allah semua akan dikembalikan (Al ankabut 17)
Makanlah dari apa-apa rizqi yang Aku (Allah) berikan padamu dengan halal dan baik dan bersyukurlah dengan nikmatKu jika kamu benar-benar kepadaKu kamu menyembah.

Ada beberapa amalan yang bisa menyebabkan datangnya rizqi dari Allah sebagaimana petunjuk dari Allah dan Rasulnya :

1. Memperbanyak Isitghfar
Hadist Nabi yang artinya : Barang siapa yang memperbanyak istghfar maka Allah akan menjadikan (membukakan) pada orang tersebut kelonggaran pada setiap kesusahannya dan memberikan jalan keluar pada setiap kesempitannya dan akan memberikan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka. (HR Ahmad)

2. Memperbanyak Infaq fisabilillah
Firman Allah yang artinya : Dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sesuatu maka Allah akan mengganti, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi (QS Saba’ 39)

3. Memperbanyak Silaturrohim
Hadist Nabi yang atrtinya: Barang siapa yang senang jika Allah membentangkan rizqi padanya dan dipanjangkan umurnya maka menyambunglah / memperbaikilah pada family.

4. Senang, menghormati tamu.
Hadist Nabi yang artinya: Tamu itu datang dengan membawa rizqi dan pulang dengan membersihkan dosa (HR Abu syaikh)
5. Berusaha menjadai orang yang jujur dan amanah
Hadist Nabi yang artinya : Orang yang amanah itu menarik rizqi dan orang yang khianat itu menarik kefakiran. (HR Dalimi)

6. Meningkatkan Taqwa kepada Allah (mengerjakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya)
Firman Allah yang artinya : Barang siapa yang bertaqwa pada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluasan dan memberi rizqi dari arah yang tak disanga-sangka (QS Athotholaq 2-3)

7. Memperbanyak tawakkal kepada Allah
Firman Allah yang artinya: Barang siapa yang berserah diri kepada Allah maka Allah akan memberi kecukupan pada orang tersebut (QS Atholaq 3) Hadist Nabi yang artinya : Seseorang dihalang-halangi rizqinya disebabkan kesalahan dari amalannya (HR Ibnu Majah).

8. Agar supaya selalu husnudhon billah
Firman Allah yang artinya (Hadist Qudsi): Sesungguhnya Aku disisi persangkaan hambaKu (HR Buchori).

9. Menertibkan sholat tahajud dan doa sepertiga malam.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Gindra

Selasa, 08 April 2008

Nikmat Hidayah

Assalamu’alaikum Wr Wb

Segala puji saya panjatkan kepada Alloh Sang Penguasa alam semesta yang selalu dan senantiasa menetapkan rohmat dan barokah-Nya kepada kita semua hingga kita selalu bisa meyakini dan menetapi Jamaah sebagai jalan tunggal masuk surga selamat dari neraka.

Begitu banyak manusia yang ingin menetapi kebenaran yang hakiki akan tetapi tidak semua manusia diberi hidayah oleh Allah, tetapi Alhamdulillah robbil 'alameen hingga saat ini kita masih tetap dapat hidayah Allah menetapi jalan Allah yang lurus yaitu Qoran Hadist Jamaah

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

سورة الأنعام ٭٦ ~ ١٥٣

"Dan inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah! dan jangan mengikuti jalan-jalan yang lain karena hanya akan memisahkanmu dari jalanKu yang benar"

Kitapun diharapkan untuk terus saling berwasiat dan mengingatkan dalam hal peramutan iman di dalam hati kita.

Setidaknya ada 4 jurus (yang biasa kita sebut 4 tali keimanan) yang kita harapkan bisa mengikat keimanan di dalam hati kita, yakni ; bersyukur, mengagungkan, mempersungguh, dan berdo'a.

Pada kesempatan yang sangat berharga ini saya akan sedikit mengingatkan pada kita untuk meningkatkan kesyukuran kita kepada Alloh sebagai usaha menjaga keimanan kita.

Para ulama menyimpulkan hal ini dalam 3 langkah kesempurnaan syukur; yang pertama adalah kesyukuran di dalam "Lisan" seperti apa yang telah biasa kita lakukan yakni dengan mengucapkan "Alhamdulillahi Robbil 'Alameen"sebagai refleks spontan dari kenikmatan yang kita peroleh, kemudian yang menjadi langkah kedua adalah kesyukuran dalam "Hati" yang membenarkan ungkapan lisan kita, dan langkah kedua ini sangat berarti bagi langkah terakhir yakni secara "Perbuatan". Yaitu tetap, menetapi, memerlukan dan mempersungguh program 5 Bab ibadah kita sebagai bukti rasa syukur kita kepada Allah.

Memperoleh kenikmatan berupa Jamaah adalah sesuatu yang harus dan sangat kita syukuri melebihi kesyukuran kita atas nikmat apapun yang dianugerahkan kepada kita, karena ada begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan nikmat Jamaah ini,diantaranya adalah ;

Pertama :

Kita dapat terbebaskan dari siksaan Alloh, sebagaimana yang telah kita sama pelajari bahwa meskipun manusia memiliki emas sebesar dunia niscaya tetap tidak akan bisa menebus atau menghindari siksaan Alloh yang akan menimpanya, sebaliknya hanya dengan Jamaah, kita bisa terbebas dari siksa Alloh yang maha dahsyat itu.

Kedua :

Kita dapat mengambil suatu keyakinan bahwa hanya dalam berjamaah amalan seseorang bisa diterima.

Ketiga :

Dengan Jamaah Alloh merukunkan dan menyatukan hati kita dengan mengabaikan perbedaan apapun yang telah menjadi kodrat manusia.

Di dalam Alquran Alloh dengan tegas menfirmankan bahwa Jamaahlah yang menjadi nikmat perantara satunya hati para mukmin, jamaah adalah pemersatu yang tidak mudah di-cerai-beraik-an karena yang mempersatukan adalah Alloh.

Semoga sedikit uraian di atas dapat mendorong kita untuk terus mensyukuri keberadaan kita di dalam Jamaah ini sebagai anugerah tertinggi dari Alloh.

Tentu saja bukti dari kesyukuran kita atas anugerah tersebut menjadi hal yang teramat penting dari pada sekedar ucapan syukur ataupun pembenaran hati terhadap anugerah teragung tersebut.

Berdasarkan Firman Allah dalam ayat-ayat-Nya yang antara lain :

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ سورة النساء ٭ ٤ ~ ١٤٧


"Alloh tidak akan menyiksa kamu sekalian jika kalian bersyukur dan beriman", dan

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُم وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ سورة إبراهيم ٭ ١٤ ~ ٧


"Niscaya jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat untukmu dan jika tidak bersyukur atas nikmatKu maka ketahuilah bahwa siksaanKu teramat pedih" telah membawa kita kepada suatu bagian kekuatan hati yang bisa kita manfaatkan untuk mengikat keimanan yang telah ada di dalam hati kita.

Kitapun penyadari bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW tentang memperbanyak berdoa meminta ketetapan hati dalam beribadah adalah suatu pelajaran besar yang (paling tidak) maknanya adalah mengajari kita untuk tidak puas begitu saja dengan keimanan yang telah ada di dalam hati kita melainkan perlu usaha keras untuk menjaga keimanan tersebut agar akhirnya bisa mengantarkan kita pada apa yang kita namakan "Husnul Khotimah".

Firman Allah :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ سورة الحجر ٭ ١٥ ~ ٩٩

"Sembahlah Tuhanmu hingga maut menjemputmu".

Masih banyak tugas kita, masih panjang jalan kita, berjuta rintangan menghadang, tentunya keimanan kita harus terus disirami dan dipertahankan hingga akhir hayat kita masing-masing.

Semoga Alloh SWT mempertemukan kita semua di dalam surga Firdaus-Nya dan menghindarkan kita dari adzab-Nya.. Amiin...

Akhiru Khouli Hada, Wassalamualaikum Wr Wb.