Rabu, 30 Maret 2011

Kisah Sabar Yang Mengagumkan


Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Sang dokter berkata:

Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.
Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta’ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala .
Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?
Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”
Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.

Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: “Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata: “Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta’ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.

Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata: “Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta’ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu: “Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan: “Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata: “Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: “Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut: “Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”
Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam yang indah lagi agung:
(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء) “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: “Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah: “Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.
Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..
Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata: “Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.
Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala ?
Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta’ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.

Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab, “tidak mengenal mereka.”
Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.
Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata: “Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya: “Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta’ala .”

Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.”

Dari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)

Senin, 07 Maret 2011

KHUTBAH RASULULLAH SAW KETIKA HAJI WADA’ (PERPISAHAN)


By : Ihsan Muhyiddin

Berikut ini adalah Khutbah Rasulullah S.A.W ketika Haji Wada’ (bertepatan pada tanggal 9 Dzul Hijjah tahun 10 H) yang pertama dan terakhir beliau lakukan di dalam Islam sekaligus sebagai Khutbah perpisahan kepada umat yang dicintai dan mencintainya, sengaja saya beri judul topik dengan tujuan agar pembaca memudah memahaminya

MUQADDIMAH BELIAU S.A.W

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Segala puji bagi Allah kami memuji dan mohon pertolongan kepadaNya, dan kami mohon ampun kepadaNya serta bertaubat kepadaNya, dan kami berlindung dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal kami, barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkanNya maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dengan esaNya dan tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad S.A.W adalah hamba dan utusanNya.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ، بِتَقْوَى اللهِ وَأَحْثَكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، وَأَسْتَفْتِحُ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ، أَمَّا بَعْدُ :

Aku berpesan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah agar bertaqwa kepada Allah dan aku mengajak kalian untuk taat kepadaNya, dan aku akan memulai dengan yang terbaik. Adapun selanjutnya :

KEHARAMAN DARAH DAN HARTA SESAMA UMAT ISLAM.

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ إِلَى أَنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا.

Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram atas kalian hingga kalian bertemu Tuhan kalian (hari Kiamat) seperti keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negri kalian ini.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ .... ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ
Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan … ? Ya Allah saksikanlah.


فَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا

Maka barang siapa yang menanggung amanah maka hendaklah disampaikan kepada yang memberinya amanah tersebut.


PEMBATALAN SENGKETA / PERMASALAHAN JAHILIYAH

وَإِنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ رِبًا أَبْدَأُ بِهِ رِبَا عَمِّي عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.

Dan riba jahiliyah dibatalkan dan riba jahiliyah yang pertama kali aku batalkan adalah riba pamanku Abbas bin Abdil Mutthalib.

وَإِنَّ دِمَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَبْدَأُ بِهِ دَمُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

Dan dendam pertumpahan darah jahiliyah juga dibatalkan, dan sesungguhnya dendam pertumpahan darah jahiliyah yang pertama kali aku batalkan adalah darah Amir bin Rabi’ah bin Al-Harits bin Abdil Mutthalib.


وَإِنَّ مَآثِرَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ غَيْرَ السَّدْنَةِ، وَالسِّقَايَةِ، وَالْعَمْدُ قَوَدٌ، وَشَبَّهَ الْعَمْدَ مَا قُتِلَ بِالْعَصَا وَالْحَجَرَ وَفِيهِ مِائَةُ بَعِيرٍ، فَمَنْ زَادَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ.

Dan sesungguhnya pilih kasih (hak istimewa) zaman jahiliyah dibatalkan selain hak melayani (mentadbir Ka’bah), dan memberi minum (air zamzam) kepada orang Haji, dan pembunuhan yang sengaja harus diqishah dan yang menyerupainya adalah pembunuhan menggunakan kayu atau batu, dan di dalam urusan itu bisa digantikan dengan denda 100 unta, barang siapa (wali yang dibunuh) minta tambah maka dia termasuk orang jahiyah.


PERINGATAN AGAR WASPADA DARI TIPU DAYA SETAN

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي أَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنَّهُ قَدْ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تُحْرِقُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ

Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah di bumi kalian (Mekah) ini. Tetapi, ia akan bangga jika ditaati (diikuti) pada perbuatan selain itu (menyembah setan) dari perkara yang kalian anggap remeh dari amal kalian !


أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا، لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللهُ

Wahai manusia! Sesungguhnya perbuatan menunda-nunda adalah menambah di dalam kekafiran, orang-orang kafir disesatkan oleh perbuatan itu, mereka menghalalkan (pada bulan haram) setahun dan mengharamkannya setahun (dengan tujuan) agar mencocoki hitungan (bulan) yang diharamkan oleh Allah maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah.


Hikmah : Perbuatan menunda kebaikan hanya akan menyebabkan seseorang bertambah kekufurannya.


وَإِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، "إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ" ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ، وَوَاحِدٌ فَرْدٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرٌ، اَلَّذِي بَيْنَ جُمَادَىْ وَشَعْبَانَ.

Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejakAllah menjadikan langit dan bumi “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan di dalam Kitab Allah (sejak) Allah menciptakan langit dan bumi diantaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturut-turut dan yang satu bulan terpisah; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar yang terletak diantara bulan Jumadil (Akhir) dengan Sya’ban.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ .... ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ

Ingatlahh bukankah aku telah menyampaikan …. ? Ya Allah saksikanlah.

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTRI

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ لِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ حَقٌّ

Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya bagi istri kalian mempunyai hak yag (wajib) atas kalian, dan kalian juga punya hak yang (wajib) atas mereka.

لَكُمْ أَنْ لاَ يُوَاطِئْنَ فُرُشَهُمْ غَيْرَكُمْ، وَلاَ يَدْخُلْنَ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ بُيُوتَكُمْ إِلاَّ بِإِذْنِكُمْ، وَلاَ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَذَنَ لَكُمْ أَنْ تَعْضُلُوهُنَّ وَتَهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعَ وَتَضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنِ انْتَهَيْنَ وَأَطَعْنَكُمْ فَعَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ،

Hak kalian adalah; Jangan sampai mereka (istri) membolehkan orang menginjak alas tidur mereka selain kalian, dan mereka tidak boleh membawa masuk ke rumah kalian orang yang kalian benci melainkan atas izin kalian, dan mereka tidak boleh melakukan tindakan keji (tidak taat dan tidak setia) jika mereka melakukannya maka sesungguhnya Allah telah memberi izin kepada kalian untuk memisahi mereka di tempat tidur, dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak mencederakan, jika mereka telah berhenti (bertaubat) dan taat kepada kalian, maka wajib atas kalian memberi rizki (nafkah) dan pakaian kepada mereka bilma’ruf (sepantasnya).

وَإِنَّمَا النِّسَاءُ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ، لاَ يَمْلِكْنَ لأَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا، وَإِنَّكُمْ إِنَّمَا أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ وَاسْتَوْصُوا بِهِنَّ خَيْرًا.

Dan sesungguhnya perempuan (istri) di sisi kalian ibarat tawanan, mereka sedikitpun tidak berkuasa atas diri mereka sendiri, dan sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menjadikan farji mereka halal (untuk kalian) dengan kalimat Allah bertaqwalah kalian kepada Allah di dalam urusannya perempuan (istri), dan nasehatlah dengan baik kepada mereka.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ

Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.


ORANG IMAN ADALAH BERSAUDARA

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لامْرِئٍ مَالٌ لأَخِيهِ إِلاَّ عَنْ طَيِّبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Wahai manusia, Sesungguhnya orang-orang iman adalah bersaudara, dan tidak halal bagi seseorang harta saudaranya kecuali disertai enak (ridhanya) diri.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ

Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.

فَلاَ تَرْجِعَنَّ بَعْدِى كَافِرًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Janganlah kalian setelah (wafat)ku kembali kafir, sebagian kalian memukul leher (membunuh) sebagian yag lain.

PERINTAH AGAR BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

فَإِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ : كِتَابَ اللهِ.

Dan sungguh telah aku tinggalkan di kalangan kalian yang kalian tidak akan tersesat jika berpegang teguh dengannya yaitu : Kitab Allah (Al-Qur’an).

NOTE : Dalam riwayat Malik;

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Telah aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selagi berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabinya.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ
Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.

NOTE : Tambahan dalam riwayat Ahmad;

قَالُوا : نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ : اللَّهُمَّ اشْهَدِ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Mereka menjawab : Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan telah mendatangkan serta nasehat (menyempurnakan risalah), maka Nabi mengangkat jari telunjuknya ke arah langit dan menunjukkan ke arah manusia seraya bersabda : Ya Allah saksikanlah, beliau ulang hal itu hingga tiga kali.

YANG MEMBUAT MANUSIA MULIA DI SISI ALLAH ADALAH KETAQWAANNYA

أَيُّهَا النَّاسُ، أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.

Wahai manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, bapak kalian itu satu, ingatlah tidak ada keutamaan orang Arab mengalahkan orang A’jam (non Arab), dan tidak ada keutamaan orang A’jam mengalahkan orang Arab, dan tidak ada keutamaan orang kulit merah mengalahkan orang kulit hitam, tidak ada keutamaan orang kulit hitam mengalahkan orang kulit merah, melainkan dengan sebab ketaqwa’an.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ. قَالُوا : نَعَمْ، قَالَ : فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

Sudahkah aku menyampaikan… ? ya Allah saksikanlah, mereka menjawab; ya, beliau bersabda hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.

PENUTUP, PENJELASAN TENTANG WARIS, WASIAT DAN KEPEMILIKAN.

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ قَسَمَ لِكُلِّ وَارِثٍ نَصِيبَهُ مِنَ الْمِيرَاثِ، وَلاَ يَجُوزُ لِوَارِثٍ وَصِيَّةٌ، وَلاَ يَجُوزُ وَصِيَّةٌ فِي أَكْثَرَ مِنْ ثُلُثٍ، وَالْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ.

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membagi bagi setiap ahli waris bagiannya masing-masing dari harta waris, dan tidaka ada wasiat bagi ahli waris, dan wasiat tidak boleh lebih dari 1/3, anak adalah untuk “alas” (ibu) sedangkan bagi pezina adalah batu (hukum ranjam).


مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ
Barang siapa yang mengaku pada selain bapaknya atau mengaku hamba selain hambanya maka berat atasnya laknat Allah dan Malaikat serta manusia semuanya, tidak diterima darinya ibadah sunnah dan ibadah wajib.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian.

Setelah itu di tempat yang sama dan jarak waktu yang tidak lama baginda medapat wahyu berupa ayat ;

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan aku sempurnakan atas kalian nikmat-nimatKu, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian. QS. Al-Maidah : 3

Kira-kira tiga bulan setelah khotbah yang sangat monumental tersebut. kemudian Baginda memenuhi panggilan kekasih sekaligus Tuhan yang telah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, shalawat dan salam semoga tetap atasnya.

REFERENSI;

Rangkaian Khotbah Wada’ tersebut, saya susun dari salinan kitab : Khutbu Ar-Rasul S.A.W (Muhammad Khalil Al-Khatib) dan disesuaikan dengan petikan-petikan Hadits-Hadits Shahih; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwatta’ Malik. Sunan Abu Dawud, dan Musnad Ahmad.