Jumat, 19 Juni 2009

Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan



"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!" (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)."

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) dating azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: 'Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.."

2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan 'habis', usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naïf kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Islam menggariskan bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

"Ad-Dun-ya mazra'atul lil akhirah." (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Oleh : Heri_Lantabur

Selasa, 16 Juni 2009

Banyak Amalan Yang Jadi Pulihan


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,"Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan,

[Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-Wasilah (derajat di surga yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam) dan keutamaan kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati kedudukan yang terpuji, yang telah Engkau janjikan], maka ia akan mendapatkan syafa'atku pada hari Kiamat.." (HR. al-Bukhari)

• SHALAT DUA RAKA'AT SETELAH WUDHU

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seseorang berwudhu, dengan menyempurnakannya, lalu melaksanakan shalat dua raka'at dan ia melaksanakannya dengan hati dan wajahnya (konsentrasi), melainkan telah pasti (wajib) baginya surga." (HR. Muslim)

• BERSEGERA MELAKSANAKAN SHALAT

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Andaikata manusia mengetahui pahala yang ada pada adzan dan shaf pertama, kemudian tidak mendapati selain harus melakukan undian, niscaya mereka akan melakukannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

• PERGI KE MASJID
Rasululllah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang pergi ke masjid di pagi hari atau sore harinya, maka Allah akan menyediakan baginya hidangan di dalam surga setiap pagi atau sore." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

• MEMPERBANYAK SHALAT SUNAH

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud (shalat) sebab tidaklah kamu sujud sekali kepada Allah, melainkan dengannya Dia akan mengangkat derajatmu dan menghapus dosa (kecil)-mu.” (HR. Muslim)

• SHALAT SUNNAH RAWATIB

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang Muslim melaksanakan shalat sunnah, selain fardhu karena Allah subhanahu wata’ala setiap hari sebanyak dua belas raka'at maka Allah akan membangun untuknya rumah di surga." (HR. Muslim)

• SHALAT SUNNAH SHUBUH

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Dua raka'at Fajar (sebelum Shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR. Muslim)

• SHALAT DHUHA

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Setiap tulang rusuk salah satu dari kamu bernilai sedekah; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan 'alhamdulillah') adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan 'Laa ilaaha illallah') adalah sedekah, setiap takbir (ucapan 'Allahu Akbar') adalah sedekah, amar ma'ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah dan termasuk bagian dari itu dua raka'at shalat Dhuha." (HR. Muslim)

• SHALAT JENAZAH

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka ia mendapatkan satu Qirath dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dikuburkan, maka ia mendapatkan dua Qirath." Lalu ada yang bertanya, "Apakah dua Qirath itu.?" Beliau menjawab, "Seperti dua gunung yang besar.."(HR. al-Bukhari dan Muslim)

• ZIKIR SETELAH SHALAT

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengucapkan tasbih (mengucapkan 'subhanallah') di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, mengucapkan hamdalah (mengucapan 'alhamdulillah') sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan 'Allahu Akbar') sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) seratus ia mengucapkan,
[Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu], maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan." (HR. Muslim)

• MEMBACA AYAT KURSI

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap akhir shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian." (HR. an-Nasa-i)

• PUASA

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka selama tujuh puluh tahun perjalanan." (HR. Ahmad dan an-Nasa-i)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa setahun." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

• MEMBACA AL-QUR'AN

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia mendapatkan satu kebaikan (pahala) dan satu kebaikan itu bernilai sepuluh kali lipatnya." (HR. at-Tirmidzi)

• SHALAWAT KEPADA NABI SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengucapkan satu kali shalawat kepadaku, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali.” (HR. al-Bukhari)

• TASBIH, TAHMID DAN TAHLIL

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang mengucapkan,
[Tiada Tuhan (yang berhak disembah dengan haq) selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari seratus kali, maka ia mendapatkan pahala setara membebaskan sepuluh budak, dicatat baginya seratus pahala, dihapus darinya seratus dosa dan ia mendapatkan penjagaan dari syaithan pada hari itu hingga sore hari. Dan tidak ada seorang pun melakukan yang lebih baik darinya melainkan orang yang melakukan lebih banyak dari itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang mengucapkan 'subhanallah wa bihamdihi' dalam sehari sebanyak seratus kali, maka akan dihapus dosa-dosanya sekali pun sebanyak buih di lautan."(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang mengucapkan,
"Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi-Nya, tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Dia, Allah Maha Besar", Maka akan ditanamkan untuknya sebuah pohon kurma di surga." (HR. al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi dan sore hari sebanyak tiga kali,
[Aku rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu’alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul], melainkan sudah menjadi hak Allah untuk meridhainya pada hari Kiamat." (HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, 'la haula wa la quwwata illa billah' adalah salah satu dari sekian banyak perbendaharaan surga." (HR. an-Nasa-i)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Allah ar-Rahman; subhanallah wa bihamdihi sub-hanallahil 'azhim." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Aku telah mengucapkan empat kalimat yang aku ulang sebanyak tiga kali lebih baik dari yang kamu ucapkan
[Maha suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya." (HR. Muslim dan Abu Dawud)

• MENYANTUNI PARA JANDA DAN ORANG-ORANG MISKIN

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Penyantun janda dan orang miskin adalah seperti Mujahid di jalan Allah." Aku mengira (periwayat hadits-penj.) Beliau shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, "dan seperti orang yang melakukan shalat malam tanpa henti-henti dan seperti orang yang berpuasa tanpa pernah berbuka." (HR. Muslim)

• MENJENGUK ORANG SAKIT

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang Muslim menjenguk saudaranya sesama Muslim yang sedang sakit di waktu pagi melainkan tujuh puluh ribu malaikat mengucapkan shalawat atasnya (mendoakannya) hingga sore hari. Dan tidaklah ia menjenguknya di waktu sore, melainkan tujuh puluh ribu malaikat mengucapkan shalawat atasnya (mendoakannya) hingga pagi hari dan ia memiliki kebun di surga."(HR. at-Tirmidzi)

• MENGUCAPKAN ALHAMDULILLAH SETELAH MAKAN

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang telah menyantap makanan lalu mengucapkan,
[Segala puji bagi Allah Yang telah memberi (makanan kepadaku) yang ini dan menganugerahkan rizqi dengan tanpa daya dan upaya dariku], maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu."(HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

• MEMBACA DO'A 'KAFARATUL MAJLIS' (PENUTUP MAJLIS)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang duduk di suatu majlis dan banyak salah, lalu sebelum beranjak dari majlis tersebut, ia mengucapkan,
[Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu], melainkan diampuni baginya dosa yang terjadi di majlis itu." (HR. at-Tirmidzi)

• MENDIDIK ANAK-ANAK PEREMPUAN

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang diberi suatu cobaan (dengan memiliki) anak-anak perempuan ini, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka." (HR. Ahmad)

• AKHLAQ YANG BAIK

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada sesuatu pun dalam timbangan seorang Mukmin yang lebih berat dari akhlaq yang baik pada hari Kiamat." (HR. at-Tirmidzi)

oleh: heri_lantabur

Selasa, 09 Juni 2009

Sosok: Jangan Cepat Lelah dan Menyerah



Aceh - Hendra Syahputra, demikian nama seorang tokoh LDII yang bertugas sebagai Sekretaris DPD LDII Provinsi NAD ini. Beliau beberapa waktu lalu baru saja memenangkan lomba menulis dan photo Capasity Building di Daerah Konflik, yang diadakan The World Bank, Multi Donor Trush Fund, Washington DC. Bapak yang lahir 32 tahun yang lalu di Bireun tepatnya pada tanggal 24 Oktorber 1976 ini telah memiliki 2 orang anak yaitu putra dan putri dari sang istri yang berprofesi seorang dokter yaitu dr. Sulamsih Sri Budini. Sang Istri sedang menyelesaikan pendidikan dokter spesialis sedangkan Pak Hendra tengah menyelesaikan pendidikan S3 kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Semester 1 di bidang Economic Development Planning.
Beliau baru saja memenangkan Writing and Photo Competition yang diadakan oleh The World Bank dan MDF. Washington DC pada tanggal 24 Maret 2009. Beruntung redaksi berkesempatan untuk mendapatkan sedikit cerita bagaimana dia mendapatkan pengakuan dari dunia internasional melalui tulisan dan photo.

"Menulis dan membaca, sudah saya senangi sejak kecil. Tahun 2000, saya pernah memenangkan lomba menulis sastra tingkat Nasional, yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan.", demikian menurut beliau yang juga pernah bekerja di Majalah Gatra Jakarta dan Harian Media Indonesia Jakarta. Sebetulnya beliau mendapatkan beberapa penghargaan. Beberapa diantaranya adalah Tahun 1999 pernah memenangkan lomba membaca sastra Piala HB Jassin tingkat Nasional. Beranjak semakin dewasa, pada tahun 2002 tulisannya mengenai pergolakan dan emansipasi perempuan Aceh, memenangkan lomba menulis dan dijadikan laporan utama, ANU University, Australia, dalam bidang Perdamaian dan Resolusi Konflik.

Beliau dengan gamblang menceritakan dengan lugas bagaimana perjalanannya dari awal karir sehingga mencapai prestasi seperti sekarang.

"Tahun 2003, tulisan saya tentang Reportase Gerilya Hutan Aceh, juga masuk dalam Australia Writing. Untuk tahun 2009, yang baru saja terjadi, tulisan saya tentang "Pembangunan di daerah bekas konflik Aceh", sekaligus photo tentang Capacity Building memenangkan writing and photo competition yang diadakan The World Bank dan MDF. Washington DC.
Ini adalah sebuah kompetisi tahunan yang di adakan The World Bank untuk umum. Saya mempersiapkan materi photo dan tilisan dengan turun ke lapangan selama 3 hari untuk melihat Object nya. Persis hari terakhir pendaftaran saya mendaftar, Alhamdulilah belum terlambat. Sebulan kemudian tepatnya Maret Lalu, saya diumumkan sebagai pemenang nya, bersama 5 pemenang lainnya. Saya tidak menyangka memenangkan tulisan dan photo ini. Bagi saya photo yang saya kirimkan sangat biasa. Namun bagi juri mungkin ada uniknya. Ada pertolongan Allah bagi saya.
Harapan saya, prestasi bisa kita toreh dimanapun, yang terpenting jangan cepat menyerah untuk mencoba. Berhasil perlu ketulusan hati untuk berjuang dan berusaha, jangan cepat lelah dan menyerah."

Demikian apa yang beliau sampaikan kepada kami. Mudah-mudahan apa yang beliau lakukan akan memberikan inspirasi kepada kita semua untuk berbuat lebih baik lagi.

reported by: n3m0

Senin, 18 Mei 2009

CELOTEH : TELEVISI



Dari kurang - lebih 14 KK di sekitar rumah saya, semuanya punya TV. Tak satu pun keluarga yang hidup tanpa kotak ajaib itu. Hebat kan? Padahal semua sudah tahu, TV termasuk benda yang kontra produktif. Alat lahan (lahwun). Para penasehat malah menyebut lebih tegas lagi sebagai terminal lahan. Merujuk sebagai benda yang banyak menyajikan suguhan yang tidak bermanfaat daripada yang bermanfaat. Wasting time, useless dan mengosongkan diri dari pahala dan memubadzirkan waktu untuk cari pahala. Lebih banyak berisikan kemudhorotan dari pada kemanfaatan. Lebih pas disebut pusat tukar perlahanan. Tapi masih saja banyak yang berdalih; ”hiburan,” katanya. Okelah..., kalau berbagai alasan itu yang masih mempertimbangkan kita punya TV. Mudah – mudahan alasan berikut ini bisa menjadikan kita lebih berhati – hati dengan kotak ajaib itu (TV). Setidaknya punya sense, perhatian dan respon lain terhadap TV, terutama terkait dengan penjagaan keimanan, dimana informasi (baca TV) adalah sumber nutrisi ’makanan’ hati dan pikiran.

Dari ’Urs bin Amirah al-Kindi ra, bahwasanya Nabi SAW bersabda, ”Apabila dosa dilakukan di bumi, maka siapa yang menyaksikannya dan membencinya, - didalam riwayat lain disebutkan, lalu dia mengingkarinya – adalah seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan barangsiapa yang tidak menyaksikannya, namun ia merestuinya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya.” (Rowahu Abu Dawud)

Cobalah resapi dan baca dengan teliti hadits di atas. Pelan – pelan. Sekali lagi. Kata demi kata. Nah, setelah memahaminya, tentu kita akan berpikir ulang untuk mengunduh acara – acara TV setiap hari. Setidaknya selektif, pilih yang baik saja. Juga kita akan menghimbau (amar ma’ruf) agar keluarga kita juga, setidaknya, untuk mengurangi frekuensi nontonnya.

Selain banyak acara TV yang meracuni pikiran dan alam bawah sadar kita, kebanyakan acaranya adalah ’sampah’ buat kepribadian kita. Coba perhatikan acara infotainment dari pagi, siang, sore seperti insert, waswas, dll. Itu adalah tergolong acara ngrasani. Perhatikan sinetron – sinetronnya, itu adalah kepalsuan dan kebohongan. Pelecehan, asusila dan pembodohan. Reality shownya banyak mengumbar penghinaan, walau ada juga yang baik. Tapi sedikit. Perhatikan acara empat mata/bukan empat mata. Apa yang bikin penonton ketawa? Lawakannya atau komentar komedian Tukul yang suka merendahkan makhluk Tuhan dan berbuat di luar adat ketimuran? Kemudian perhatikan acara kriminalnya? Semakin hari modus operandi pemotongan mayat selalu bertambah dan semakin canggih. Tadinya dipotong tiga, kemudian dipotong tujuh dan selanjutnya dipotong belasan. Ada ekskalasi. Karena secara tidak sadar orang merekam kejadian tersebut. Tatkala kondisi kalut maka muncullah dalam wacana mereka untuk melakukan dengan lebih sadis lagi. Toh sudah ada contohnya.

Kata kunci dalam memahami hadits di atas adalah menyaksikan. Ketika kita melihat suatu kejadian dosa di muka bumi ini, kemudian kita tidak pasang stelan hati untuk membencinya, mengingkarinya berarti kita berada di dalamnya. Hadits ini terkait dengan kewajiban amar – ma’ruf. Padahal kita semua faham bahwa jika kita melihat kemungkaran, maka wajib hukumnya bagi kita untuk merubahnya. Pertama dengan tangan, lisan dan terakhir dengan pengingkaran. Dan jika kita kaji lebih jauh lagi, ketika kita membiarkannya, tanpa respon sedikit pun, tunggulah saatnya Allah akan meratakan siksa tersebut. Laa haula walaa quwwata illa billaah.

Dari Abu Said al-Khudri ra, ia berkata, ’Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah iman yang paling lemah.” (Rowahu Muslim)
Dari hudzaifah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya, sungguh mengajaklah kalian kepada yang ma’ruf dan mencegahlah dari yang mungkar, atau Allah akan segera menimpakan siksa terhadap kalian, kemudian kalian berdoa kepadaNya dan Dia tidak mengabulkannya.” (Rowahu Tirmidzi)
Lho, itu kan kejadian di belahan bumi lain? Kan kita melihatnya secara tidak langsung? Betul. Salahnya adalah kenapa kita melihatnya? Kenapa kita ’memilih’ menyaksikannya? Bukan masalah itu kejadian di negeri antah berantah. Masalahnya, kenapa kita memilih menonton TV dibanding kegiatan yang lainnya.
Jadi, kalau memang tidak bisa meninggalkan sepenuhnya, setidaknya mengurangi. Niat berpaling. Seandainya belum bisa mengurangi, cobalah mengingkari. Jangan sampai kita jatuh pada pilihan terakhir; menyenangi televisi. Ha...@#*&%! Jangan hanya bengong. Yuk kita mulai.

By Fami, Jambi

Celoteh : Esai Kehidupan (2)


Kala susah, ada orang cenderung merasa paling menderita sedunia. Ketika ada yang mau menolong dicurigai. Ada yang empati dicuekin. Ada yang mendekat, disuruh menjauh. Pura – pura nggak butuh. Giliran orang lain cuek, tambah sakit hati. Timbul uneg – uneg jelek. Mangkel, dan terus ngancam dalam hati. Awas ya, nanti kalau saya sudah enak, sejahtera, ganti tak cuekin, bisiknya. Begitu susah ilang, dunia seakan milik sendiri. Tak mau berbagi. Ketika diingatkan, malah nglantur. Biar saja to, wong susah, yo susahku sendiri. Makanya, kalau aku lagi senang, ya biar tak rasakan sendiri. Banyak manusia lupa; hidup itu laksana berputarnya roda (urip koyo ubenge roda). Maka nggak salah kalau kita melihat kembali firman Allah dalam kitabnya; “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (QS al-Ankabut:10)

Itu sindiran yang keras. Pedas. Di ayat lain Allah juga menyitir; “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (keraguan), maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al-Hajj:11)

Orang – orang dengan model seperti ini, adalah orang yang bermasalah dengan hatinya. Orang yang belum dewasa pemikirannya. Sebab saya teringat ketika umur belasan, seperti itulah kondisinya. Suka nggak terima. Nggak sabaran dan marah – marah sendiri. Padahal intinya caper – cari perhatian. Dari Ibu, Bapak dan saudara – saudara semuanya. Hal itu mengindikasikan ada penyakit di dalam hati. Harus segera diobati. Dihilangkan dengan banyak menyelami dan minum air kehidupan ini. Dan jangan dinyana, masih banyak jumlahnya orang – orang seperti itu di sekitar kita. Karena secara tak sadar, kita sendiri pun bisa termasuk di dalamnya. Kalau sedih seakan kiamat, kalau senang lupa daratan.

Secara sederhana, islam mengajarkan; kala sedih sabar dan istirja, dan kala senang juga sabar tapi harus syukur. Ilmu yang gampang tapi susah dipraktekkan. Ilmu yang simpel, tetapi dalem. Dan perlu waktu yang lama untuk bisa mengaplikasikan dengan benar pada setiap sendi-sendi kehidupan ini. Apalagi bagi kita yang tidak pernah merasa menderita sepanjang hidupnya. Maksudnya, lahir dari keluarga kaya, hidup di lingkungan orang kaya dan selalu berkumpul dengan orang – orang kaya yang selalu tercukupi kebutuhannya. Nlisir, orang bilang. Padahal pada hakikinya semua mengalami pahit – getir, suka – duka dan naik – turun kehidupan ini dengan kadar masing – masing derajatnya. Tak sama antara satu dan lainnya. Atas kuasaNya, tak bisa saling melihatnya. Maka, orang Jawa bilang; urip iku sawang – sinawang. Hidup itu cuma berdasarkan pandangan, yang membujuk. Kita melihat para dokter itu lebih enak daripada jadi guru. Padahal para guru melihat, jadi dokter itu lebih enak. Dan para dokter sendiri bilang, jadi arsitek itu lebih enak, dan sebagainya dan sebagainya. Muter. Mbules. Satu hal yang patut jadi andalan dalam menghadapi kehidupan ini adalah banyak syukur. Dengannya kita bisa menindih hal – hal negative yang lain. Dan salah satu cara mengepolkan syukur adalah mencari jalan syukur, yang berserak di puing – puing kehidupan sekitar kita.


Setelah banyak kemunduran yang ia alami dalam hidupnya itu, seorang teman memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!! Kita akan bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu mencuri, 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak..!!! Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat..MENGEMIS...!! Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan nanti! Masya Allah.

Kemudian ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu... mereka berebutan untuk memakannya!! Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kebahagiaan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!! Ia pun mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini amat kekurangan!!
Sedulur, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita berusaha terus mengepolkan syukur ??? Apakah kita hanya banyak mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki? Ingatlah; Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia meridhai bagi kalian kesyukuran itu.” (QS az-Zumar:7)

By : Fami, Jambi

Senin, 04 Mei 2009

Celoteh : Esai Kehidupan (1)


Terus terang saya tidak ingat lagi, kapan terakhir saya merasa sedih. Rasanya hidup ini terasa enak terus, senang terus. Mungkin, karena rasa syukur pada Allah yang berlipat – lipat sehingga menutup memori – memori kelam itu. Sakdermo. Nrimo ing pandum. Padahal dalilnya jelas, dalam hidup ini haruslah ada cobaan. Hidup haruslah dengan problematika. Tidak bisa tidak. Ada senang, ada sedih. Ada tawa, ada tangis. Ada sukses, ada gagal. Ada kesulitan, ada kemudahan. Ada kelahiran, ada kematian. Ada siang, ada malam. Dan lain sebagainya, sebagai suatu bentuk pasangan yang telah diciptakan Allah. Itulah garisNya. Dalam hidup ini, juga ada mushibah, pun ada salah. Allah berfirman; “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan sungguh kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS al-Baqoroh 155).
Mungkin baru sedikit penjelajahan dan petualangan hidup ini. Indonesia saja belum diputerin semua. Pulau Jawa pun banyak yang belum dikunjungi. Jangankan Pulau Jawa, wong Kota Pati sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pati, yang tercantum di KTP saya sebagai tempat lahir, belum tuntas saya kunjungi. Kadang saya jadi malu, ketika ngaku orang Pati, tapi nggak tahu Pati. Maaf. Apalagi manca negara. Kemudian berkelahi juga tidak pernah. Tawuran belum punya catatan. Bandel belum pernah merasakan. Maka terkadang pengin merasakan satu per satu pengalaman itu. Namun itu bukan ukuran kualitas hidup seseorang. Sebab kebijaksanaan tidak melulu datang dari hal yang mahal, pelik dan brilian lagi menantang. Bahkan yang paling sederhana pun bisa menjadi hikmah dan guru hidup yang luar biasa, kalaulah bukan yang terbaik. Sebab selama kita masih berpijak pada bumi yang sama, maka kita bisa belajar dan mendengar dari pengalaman orang lain di sekitar kita. Walau tanpa pernah mengalaminya sendiri. Sebab apa yang ada di bumi ini memang diperuntukkan bagi kita semua manusia. Tinggal pinter – pinternya kita mengambilnya. Allah berfirman; “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS al-Baqoroh: 29)

Urusan hidup itu sudah ada yang ngatur. Oleh karena itu jangan suka mengatur hidup. Isilah dengan hal – hal yang bermanfaat saja. Isilah dengan yang baik – baik saja, sebagaimana telah diatur dan diberikan yang Maha Mengatur lewat para utusan, di dalam kitab dan sunnatullahnya. Alam semesta telah banyak memberikan contoh, maka para leluhur nan bijak sering berkata, hiduplah seperti air yang mengalir. Mengasihilah seperti sang surya yang menyinari dunia. Kalau kita berbuat baik Allah senang. Kalau kita berbuat baik, kebaikanlah yang kita temui kembali.

Diceritakan seorang pewarta mewawancari seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik sukses buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian.

“Apa rahasianya Pak? Kenapa buah jagung Bapak selalu menjadi juara?” tanya sang wartawan.

Petani itu menjawab, “Tak ada rahasia. Tak ada resep khusus. Biasa – biasa saja. Sebab setiap musim tanam saya selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaik saya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan saya.”

"Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.

"Anda benar. Tapi tak tahukah anda?," jawab petani itu, "Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus memberikan kepada tetangga saya jagung yang baik juga, sehingga mereka pun mendapatkan jagung yang baik pula."

Begitulah hidup. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang kita sentuh di sekitar kita. Nggak jauh – jauh.

Allah berfirman; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imron:190)

Mari terus belajar dan belajar.

Oleh : Faizunal Abdillah

Rabu, 29 April 2009

LALAT



Assalamu'alaikum wr. wb.
Lalat adalah hewan jenis serangga, yang dalam ilmu biologi lalat digolongkan pada subordo Cyclorrapha, ordo Diptera. Dalam bahasa Arab, lalat disebut "addzubab". Lalat termasuk binatang yang lincah. Selain bisa terbang dengan cepat, lalat mempunyai kepekaan yang sangat tinggi terhadap gerakan karena ia mempunyai mata majemuk yang terdiri dari 3000 lensa sehingga mampu melihat ke segala arah dan mampu mentransfer gerakan ke syaraf penglihatan dengan cepat, sehingga lalat sulit dipukul.
Umumnya orang memandang lalat sebagai binatang hina. Karena selain bentuknya kecil, lalat biasa hinggap di tempat kotor dan menjijikkan, misalnya sampah yang telah busuk, bangkai atau kotoran manusia karena di situlah lalat mendapatkan makanannya yang kaya akan gizi dan protein. Di situ pula lalat menyimpan telurnya yang kemudian berkembang menjadi belatung, kepompong dan akhirnya menjadi anak-anak lalat.

Disebabkan oleh tempatnya yang kotor itulah maka lalat dapat menyebarkan berbagai penyakit. Banyak kuman yang menempel pada lalat terutama pada bagian sayap ketika lalat hinggap di kotoran, dan kurang-lebih 125000 kuman dirontokkan ketika dia hinggap di tempat lain.

Beberapa jenis kuman penyakit yang bisa disebarkan oleh lalat di antaranya adalah disentri, typhus, myiasis, bartonellosis dan sebaginya. Bahkan baru-baru ini telah dilansir hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. drh. R. Wasito Msc, PhD dan istrinya Prof. drh. Hastari Wuryastuti Msc. PhD dari Fakultas kedokteran Hewan, Universitas Gajah Mada yang menyatakan, bahwa lalat dapat menyebarkan virus "flu burung" (H5NI).
Tetapi disamping membawa kuman-kuman penyakit, sesungguhnya lalat juga membawa zat penawarnya. Beberapa hadits yang menerangkan tentang itu adalah:
"Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah satu kamu sekalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya, sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, pada sayap lainnya ada obatnya." (HR. Bukhori).
Dalam riwayat lain diterangkan:
"Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat terdapat racun dan pada sayap lainnya obat. Apabila seekor lalat jatuh pada makanan maka celupkanlah, karena dia akan mendahulukan mengeluarkan racun dan mengakhirkan mengeluarkan obat." (HR. Ahmad)
Bagi sebagian orang, hadits ini cukup mengagetkan. Banyak diantaranya menolak kebenaran hadits ini. Tetapi bagi orang yang beriman, orang yang menganggap bahwa pernyataan Rasulullah saw adalah suatu kebenaran, maka tentunya hadits ini tidak menjadi masalah, bahkan lebih menguatkan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena mereka yakin bahwa yang disabdakan oleh Nabi saw semata-mata adalah wahyu dari Allah SWT:

"Wamaa yanthiqu 'anil hawa, inhuwa illa wahyuyyuuha." (QS. An Najm: 3 )

Artinya: "Dan tidaklah ia (Nabi Muhammad saw) berbicara menurut hawa nafsu, melainkan (dari)
wahyu yang telah diwahyukan kepadanya."

Dan kebenaran sabdanya pasti akan terbukti sekalipun melewati masa yang lama.

"Walata'lamunna nabaahu ba'da hiin." (QS. As Shood: 88)

Artinya: "Dan sungguh kamu akan mengetahui (kebenaran) ceritanya setelah (melewati) masa."


Sikap pengingkaran ini muncul dari kalangan orang-orang yang mengkultuskan akal mereka. Ironisnya diantara penyebar tasykik ( keragu-raguan) terhadap hadits ini adalah orang-orang yang dikenal kegigihannya membela Islam dari serangan orientalis dan kuffar. Beberapa nama diantaranya: Syaikh Muhammad Al-Ghozali, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Al-Maraghi dan Dr.Yusuf Al-Qordhowi. Mereka berasumsi bahwa hadits ini bertentangan dengan realitas dan ilmu kedokteran sehingga mereka meng-illal matan hadits dan memalingkan makna zahirnya sekalipun hadits ini shahih.
Sesungguhnya hadits ini tidak diragukan lagi kesahihannya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany menjelaskan dalam bukunya: "Al-Silsilah Al-Shohihah", bahwa hadits ini shahih. Hadits ini datang dari 3 orang sahabat nabi yang terkemuka, yaitu: Abu Hurairah, Abu Said Al-Khudzri dan Anas.

Dari Abu Hurairah yang haditsnya telah ditakhrij oleh Imam Bukhori, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi dan Ibnu Majah masing-masing dengan sanad yang shahih.

Abu Said Al khudzri haditsnya telah ditakhrij oleh: Ibnu Hibban dalam kitab "At Tsiqot", Abu Ya'la dalam kitab "Musnad"-nya, At Toyalisy dalam kitab "Musnad". Menurut Saikh Al Albany, hadits-hadits ini shahih, rijal-nya (perawinya) tsiqot (kredibel) dan masuk dalam katagori rijal-nya Syaikhoini (Bukhori dan Muslim).

Dan dari Anas haditsnya di-takhrij oleh Al Bazzar dengan rijalnya yang shahih, di-takhrij pula oleh At Tobaroni dalam "Al Ausath" dan "Majma'uz zawaid" dan ditakhrij pula oleh Ibnu Abi khoitsamah dalam "Tarikhul Kabir". Menurut Syaikh Al Albani kesemuanya diriwayatkan oleh para perawi yang shahih.

Untuk itu tidak ada alasan mengatakan hadits itu lemah. Adapun anggapan hadits ini bertentangan dengan realita itu hanya karena keterbatasan pengetahuan mereka di dalam memandang fenomena ini dan anggapan itu tidak sedikitpun mengurangi kesahihan "hadits lalat". Allah SWT telah berfirman:

"Wamaa uutitum minal 'ilmi illa qoliil." (QS. Al Isra':85)

Artinya: "Dan tidaklah apa yang diberikan kepadamu dari pengetahuan kecuali sedikit."

Secara ilmiah sesungguhnya "hadits lalat" ini tidak bertentangan dengan realita. Dengan pemikiran yang sederhana saja, "hadits lalat" ini mudah diterima, karena setiap mahluk yang membawa kuman penyakit maka dia akan membentuk antibodi dari dalam tubuh mereka sebagai penawar bagi penyakit yang dibawanya sehingga kuman itu tidak membahayakan bagi dirinya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan penelitian tentang lalat pun banyak dilakukan. Dan ternyata dunia kedokteran telah berhasil membuktikan keilmiahan sabda Nabi ini. Prof. Dr. Amin Ridho, Dosen "Penyakit Tulang" Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Mesir menjelaskan bahwa dunia kedokteran pernah menggunakan lalat sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit borok menahun dan paru (frambosia tropica). Ini terjadi pada tahun 1930-an sebelum ditemukan struktur kimia sulfa.

Penelitian lain pun telah dilakukan oleh Team Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qoshim Saudi Arabia. Team yang terdiri dari peneliti muda yaitu: Sami Ibrahim At Taili, Adil Abdurrahman Al Misnid, Khalid Dza'ar Al Ulaiby. Team ini melakukan penelitian tentang analisa mikrobiologi sayap lalat yang dibimbing oleh Dr. Jamil Hamid dan dikoordinasikan oleh Dr. Shalih Ash Shalih. Selanjutnya hasil penelitian mereka dipresentasikan dalam acara "Student Reseach Seminar" di Universitas Qoshim Saudi Arabia.

Methode yang mereka gunakan cukup sederhana, yaitu mengkultivasi air steril yang telah dicelupkan lalat ke media agar kemudian mengidentifikasikan mikroba yang tumbuh.

Lalat yang digunakan ada beberapa spesies, dan sample yang digunakan untuk setiap spesies terdiri dari dua sample, yaitu (1) sample air steril dimana lalat dimasukkan sedemikian rupa sehingga hanya bagian sayap lalat saja dan (2) sampel air steril yang dimasukkan lalat yang dicelup seluruh tubuhnya. Semua ini dilakukan secara aseptis (bebas mikroba) di ruangan khusus, untuk menghindari terjadinya kontaminasi luar yang akan membuat hasil penelitian menjadi bias.
Setelah itu, sample air tadi dikultivasi ke dalam media agar dan diinkubasi selama beberapa hari sehingga kultur (biakan) mikroba tumbuh dan tampak secara jelas. Hasil kultur mikroba tadi diidentifikasi untuk mengetahui jenis mikroba tersebut.

Spesies lalat A

Dua cawan yang berbeda (cawan 1 dan cawan 2) diberi sample kultur air yang diambil dari sebuah tabung yang berisi air steril.

Hasilnya, pada cawan 1: pada awalnya media tampak ditumbuhi oleh koloni patogen tipe Escherichia coli atau yang disingkat E. Coli. Bakteri ini terdapat di tinja dan merupakan penyebab penyakit diare dan muntaber. Namun pertumbuhan bakteri ini terhambat oleh mikroorganisme yang setelah diindentifikasi merupakan bakteri Actinomyces yang dapat memproduksi antibiotik. Bakteri ini biasanya menghasilkan antibiotik yang dapat diekstrak, yaitu actinomycetin dan actinomycin yang bersifat meliliskan bakteri dan bersifat antibakteri dan antifungi.

Pada cawan 2: Koloni patogen tipe E. Coli dapat tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.

Spesies lalat B
Cawan 1: Media tampak ditumbuhi koloni bakteri patogen corynobacyterium diphteriae, yang merupakan penyebab berbagai macam penyakit, namun pertumbuhan bakteri terhambat oleh bakteri actinomyces.
Cawan 2: Bakteri corynobacterium diphteriae tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.
Spesie lalat C

Cawan 1: Media tampak ditumbuhi koloni bakteri patogen staphylococcus sp, yang merupakan penyebab berbagai macam penyakit, namun pertumbuhannya terhambat oleh bakteri actinomyces.

Cawan 2: Bakteri staphylococcus sp tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.

Kesimpulan:

Masuknya lalat pada makanan dan minuman dengan dicelupkan dan tidak dicelupkan ternyata memberikan hasil yang berbeda secara signifikan. Hal ini membenarkan apa yang telah disabdakana Rasulullah saw, bahwa setiap lalat membawa penyakit dan sekaligus membawa penawarnya. Sayap kiri lalat membawa berbagai macam virus yang mematikan, sedangkan pada sayap kanan lalat terdapat penawarnya.

Subhanallah.



J. Irfan.