Rabu, 29 April 2009

LALAT



Assalamu'alaikum wr. wb.
Lalat adalah hewan jenis serangga, yang dalam ilmu biologi lalat digolongkan pada subordo Cyclorrapha, ordo Diptera. Dalam bahasa Arab, lalat disebut "addzubab". Lalat termasuk binatang yang lincah. Selain bisa terbang dengan cepat, lalat mempunyai kepekaan yang sangat tinggi terhadap gerakan karena ia mempunyai mata majemuk yang terdiri dari 3000 lensa sehingga mampu melihat ke segala arah dan mampu mentransfer gerakan ke syaraf penglihatan dengan cepat, sehingga lalat sulit dipukul.
Umumnya orang memandang lalat sebagai binatang hina. Karena selain bentuknya kecil, lalat biasa hinggap di tempat kotor dan menjijikkan, misalnya sampah yang telah busuk, bangkai atau kotoran manusia karena di situlah lalat mendapatkan makanannya yang kaya akan gizi dan protein. Di situ pula lalat menyimpan telurnya yang kemudian berkembang menjadi belatung, kepompong dan akhirnya menjadi anak-anak lalat.

Disebabkan oleh tempatnya yang kotor itulah maka lalat dapat menyebarkan berbagai penyakit. Banyak kuman yang menempel pada lalat terutama pada bagian sayap ketika lalat hinggap di kotoran, dan kurang-lebih 125000 kuman dirontokkan ketika dia hinggap di tempat lain.

Beberapa jenis kuman penyakit yang bisa disebarkan oleh lalat di antaranya adalah disentri, typhus, myiasis, bartonellosis dan sebaginya. Bahkan baru-baru ini telah dilansir hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. drh. R. Wasito Msc, PhD dan istrinya Prof. drh. Hastari Wuryastuti Msc. PhD dari Fakultas kedokteran Hewan, Universitas Gajah Mada yang menyatakan, bahwa lalat dapat menyebarkan virus "flu burung" (H5NI).
Tetapi disamping membawa kuman-kuman penyakit, sesungguhnya lalat juga membawa zat penawarnya. Beberapa hadits yang menerangkan tentang itu adalah:
"Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah satu kamu sekalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya, sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, pada sayap lainnya ada obatnya." (HR. Bukhori).
Dalam riwayat lain diterangkan:
"Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat terdapat racun dan pada sayap lainnya obat. Apabila seekor lalat jatuh pada makanan maka celupkanlah, karena dia akan mendahulukan mengeluarkan racun dan mengakhirkan mengeluarkan obat." (HR. Ahmad)
Bagi sebagian orang, hadits ini cukup mengagetkan. Banyak diantaranya menolak kebenaran hadits ini. Tetapi bagi orang yang beriman, orang yang menganggap bahwa pernyataan Rasulullah saw adalah suatu kebenaran, maka tentunya hadits ini tidak menjadi masalah, bahkan lebih menguatkan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena mereka yakin bahwa yang disabdakan oleh Nabi saw semata-mata adalah wahyu dari Allah SWT:

"Wamaa yanthiqu 'anil hawa, inhuwa illa wahyuyyuuha." (QS. An Najm: 3 )

Artinya: "Dan tidaklah ia (Nabi Muhammad saw) berbicara menurut hawa nafsu, melainkan (dari)
wahyu yang telah diwahyukan kepadanya."

Dan kebenaran sabdanya pasti akan terbukti sekalipun melewati masa yang lama.

"Walata'lamunna nabaahu ba'da hiin." (QS. As Shood: 88)

Artinya: "Dan sungguh kamu akan mengetahui (kebenaran) ceritanya setelah (melewati) masa."


Sikap pengingkaran ini muncul dari kalangan orang-orang yang mengkultuskan akal mereka. Ironisnya diantara penyebar tasykik ( keragu-raguan) terhadap hadits ini adalah orang-orang yang dikenal kegigihannya membela Islam dari serangan orientalis dan kuffar. Beberapa nama diantaranya: Syaikh Muhammad Al-Ghozali, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Al-Maraghi dan Dr.Yusuf Al-Qordhowi. Mereka berasumsi bahwa hadits ini bertentangan dengan realitas dan ilmu kedokteran sehingga mereka meng-illal matan hadits dan memalingkan makna zahirnya sekalipun hadits ini shahih.
Sesungguhnya hadits ini tidak diragukan lagi kesahihannya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany menjelaskan dalam bukunya: "Al-Silsilah Al-Shohihah", bahwa hadits ini shahih. Hadits ini datang dari 3 orang sahabat nabi yang terkemuka, yaitu: Abu Hurairah, Abu Said Al-Khudzri dan Anas.

Dari Abu Hurairah yang haditsnya telah ditakhrij oleh Imam Bukhori, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi dan Ibnu Majah masing-masing dengan sanad yang shahih.

Abu Said Al khudzri haditsnya telah ditakhrij oleh: Ibnu Hibban dalam kitab "At Tsiqot", Abu Ya'la dalam kitab "Musnad"-nya, At Toyalisy dalam kitab "Musnad". Menurut Saikh Al Albany, hadits-hadits ini shahih, rijal-nya (perawinya) tsiqot (kredibel) dan masuk dalam katagori rijal-nya Syaikhoini (Bukhori dan Muslim).

Dan dari Anas haditsnya di-takhrij oleh Al Bazzar dengan rijalnya yang shahih, di-takhrij pula oleh At Tobaroni dalam "Al Ausath" dan "Majma'uz zawaid" dan ditakhrij pula oleh Ibnu Abi khoitsamah dalam "Tarikhul Kabir". Menurut Syaikh Al Albani kesemuanya diriwayatkan oleh para perawi yang shahih.

Untuk itu tidak ada alasan mengatakan hadits itu lemah. Adapun anggapan hadits ini bertentangan dengan realita itu hanya karena keterbatasan pengetahuan mereka di dalam memandang fenomena ini dan anggapan itu tidak sedikitpun mengurangi kesahihan "hadits lalat". Allah SWT telah berfirman:

"Wamaa uutitum minal 'ilmi illa qoliil." (QS. Al Isra':85)

Artinya: "Dan tidaklah apa yang diberikan kepadamu dari pengetahuan kecuali sedikit."

Secara ilmiah sesungguhnya "hadits lalat" ini tidak bertentangan dengan realita. Dengan pemikiran yang sederhana saja, "hadits lalat" ini mudah diterima, karena setiap mahluk yang membawa kuman penyakit maka dia akan membentuk antibodi dari dalam tubuh mereka sebagai penawar bagi penyakit yang dibawanya sehingga kuman itu tidak membahayakan bagi dirinya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan penelitian tentang lalat pun banyak dilakukan. Dan ternyata dunia kedokteran telah berhasil membuktikan keilmiahan sabda Nabi ini. Prof. Dr. Amin Ridho, Dosen "Penyakit Tulang" Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Mesir menjelaskan bahwa dunia kedokteran pernah menggunakan lalat sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit borok menahun dan paru (frambosia tropica). Ini terjadi pada tahun 1930-an sebelum ditemukan struktur kimia sulfa.

Penelitian lain pun telah dilakukan oleh Team Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qoshim Saudi Arabia. Team yang terdiri dari peneliti muda yaitu: Sami Ibrahim At Taili, Adil Abdurrahman Al Misnid, Khalid Dza'ar Al Ulaiby. Team ini melakukan penelitian tentang analisa mikrobiologi sayap lalat yang dibimbing oleh Dr. Jamil Hamid dan dikoordinasikan oleh Dr. Shalih Ash Shalih. Selanjutnya hasil penelitian mereka dipresentasikan dalam acara "Student Reseach Seminar" di Universitas Qoshim Saudi Arabia.

Methode yang mereka gunakan cukup sederhana, yaitu mengkultivasi air steril yang telah dicelupkan lalat ke media agar kemudian mengidentifikasikan mikroba yang tumbuh.

Lalat yang digunakan ada beberapa spesies, dan sample yang digunakan untuk setiap spesies terdiri dari dua sample, yaitu (1) sample air steril dimana lalat dimasukkan sedemikian rupa sehingga hanya bagian sayap lalat saja dan (2) sampel air steril yang dimasukkan lalat yang dicelup seluruh tubuhnya. Semua ini dilakukan secara aseptis (bebas mikroba) di ruangan khusus, untuk menghindari terjadinya kontaminasi luar yang akan membuat hasil penelitian menjadi bias.
Setelah itu, sample air tadi dikultivasi ke dalam media agar dan diinkubasi selama beberapa hari sehingga kultur (biakan) mikroba tumbuh dan tampak secara jelas. Hasil kultur mikroba tadi diidentifikasi untuk mengetahui jenis mikroba tersebut.

Spesies lalat A

Dua cawan yang berbeda (cawan 1 dan cawan 2) diberi sample kultur air yang diambil dari sebuah tabung yang berisi air steril.

Hasilnya, pada cawan 1: pada awalnya media tampak ditumbuhi oleh koloni patogen tipe Escherichia coli atau yang disingkat E. Coli. Bakteri ini terdapat di tinja dan merupakan penyebab penyakit diare dan muntaber. Namun pertumbuhan bakteri ini terhambat oleh mikroorganisme yang setelah diindentifikasi merupakan bakteri Actinomyces yang dapat memproduksi antibiotik. Bakteri ini biasanya menghasilkan antibiotik yang dapat diekstrak, yaitu actinomycetin dan actinomycin yang bersifat meliliskan bakteri dan bersifat antibakteri dan antifungi.

Pada cawan 2: Koloni patogen tipe E. Coli dapat tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.

Spesies lalat B
Cawan 1: Media tampak ditumbuhi koloni bakteri patogen corynobacyterium diphteriae, yang merupakan penyebab berbagai macam penyakit, namun pertumbuhan bakteri terhambat oleh bakteri actinomyces.
Cawan 2: Bakteri corynobacterium diphteriae tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.
Spesie lalat C

Cawan 1: Media tampak ditumbuhi koloni bakteri patogen staphylococcus sp, yang merupakan penyebab berbagai macam penyakit, namun pertumbuhannya terhambat oleh bakteri actinomyces.

Cawan 2: Bakteri staphylococcus sp tumbuh dengan sempurna tanpa penghambat.

Kesimpulan:

Masuknya lalat pada makanan dan minuman dengan dicelupkan dan tidak dicelupkan ternyata memberikan hasil yang berbeda secara signifikan. Hal ini membenarkan apa yang telah disabdakana Rasulullah saw, bahwa setiap lalat membawa penyakit dan sekaligus membawa penawarnya. Sayap kiri lalat membawa berbagai macam virus yang mematikan, sedangkan pada sayap kanan lalat terdapat penawarnya.

Subhanallah.



J. Irfan.

Selasa, 21 April 2009

Celoteh : Sholat Tasbih



Siapa bilang kalau sholat tasbih itu amalan populernya jokam? Siapa bilang? Aku tidak bilang begitu. Karena faktanya aku alami sendiri. Ketika masih usia belasan di kampung dulu, sholat tasbih selalu menjadi andalan para tetua kami untuk menyambut malam lailatul qodar. Malam kur – kuran. Mulai dari selikur (21), telu likur (23), selawe (25), pitu likur (27) dan sanga likur (29). Jadi semacam kegiatan sakral. Bayangkan, sholat tasbihnya itu dilaksanakan pas tengah malam. Ora baen – baen. Dilaksanakan dengan cara berjamaah lagi. Ya, berjamaah! Biasanya mulai jam 12.00 tet. Sebelum itu, dipukullah bedug bertalu – talu, setengah jam sebelumnya. Kami biasa menyebutnya dengan dandang. Sebagai tanda akan dimulainya sholat itu. Dan ukuran bedug dikampung kami termasuk bedug yang sangat besar, dengan diameter lebih dari 1 meter. Terbuat dari kayu jati bulat – glondongan. Bukan rakitan dari belahan – belahan kayu. Dan kami sering, yang masih ABG waktu itu, mempermainkan bedug ini dengan irama dangdut atau gambus. Beda dengan tabuhan bedug konvensional dari para tetua. Jadilah rame, karena kesempatan memukul bedug dan menyalurkan bakat. Karena terus terang kami sangat stress, kalau sholat itu dimulai. Lama sekali bo...!
Setelah berkumpul baru mulai sholat tasbihnya. Setiap kali pelaksanaan bisa 30 menit baru kelar. Itu paling cepat. Tergantung dari imamnya. Di masjid kampung saya dulu ada 3 imam definitif. Yang satu sudah sepuh, ini yang paling lama kalau ngimami. Dan terus terang banyak yang tidak pro dia. Satu lagi separo baya. Dai anak imam yang sepuh itu. Dia agak moderat, tetapi tetap saja masih banyak yang ogah – ogahan juga. Nah, ada imam yang paling muda. Ini yang jadi favorit. Sebab cepat dan memenuhi standar tuma’ninah dan tartil bacaan. Sayangnya, dia jarang ngimami. Jadi tetap saja, bagi kami waktu itu, sholat tasbih merupakan momok. Nah, cara mengkomandoinya, imam selalu mengeraskan bacaan la haula wala quwwata illa billah sebagai tanda selesai itungan bacaan tasbih setiap urutan gerakan. Biasanya sih, perasaan kami, sepertinya nunggunya lama sekali untuk mendengar kalimat itu diucapkan oleh imam. Jadi, sudah banyak cerita, yang sujud tidak bangun – bangun lagi. Alias tertidur karena lamanya sujud. Apalagi cerita kliyengan karena pusing campur ngantuk. Itu sudah biasa, dan hanya sholat tasbih itu saja amalan untuk menghadang lailatul qodar. Ya, boleh dikatakan sholat tasbih itu amalan tahunan. Hanya setiap akhir ramadhan ketemu dan ketemuan lagi. Tidak pernah terlewat.

Saya tidak ingin membahas kenapa sholat tasbih itu dikerjakan secara berjamaah? Boleh apa enggak itu harusnya sudah jelas. Karena sebagian besar sholat sunnah itu amalan munfarid alias sendiri. Tidak dicontohkan dengan cara berjamaah. Memang ada sebagian contoh sholat sunnah yang dikerjakan secara berjamaah, seperti sholat tarawih. Jadi nggak usah diperdebatkan lagi panjang lebar. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa amalan sholat tasbih itu memang pol. Dan bukan hanya kita saja yang menekuninya. Jadi jangan berbangga diri, kalau kita bisa melaksanakannya. Syukuri saja, bahwa kita diberi kekuatan dan kemampuan melaksanakan dan mencintai ajaran sunnah. Kenapa? Karena dikajikan dari sumbernya langsung. Kita tahu kalau sholat tasbih itu boleh dikerjakan setiap hari atau setiap minggu atau setiap bulan, setiap tahun atau seumur hidup sekali. Kefadholannya, bisa menghapus sepuluh macam dosa. Hanya saja, saya belum nemu praktik sholat tasbih yang berjamaah seperti di kampung saya dulu. Memang contohnya nggak dikerjakan secara berjamaah. Jadi, jangan dicoba ya sholat tasbih dengan cara berjamaah? Brr.....!

Oleh : Faizunal Abdillah

Senin, 06 April 2009

Al-Manshuuriin



Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia kita mengenal beberapa aliran islam mainstream dan non-mainstream. Meski sudah sejak era Wali Songo islam mulai tersohor di bumi nusantara, namun ternyata kekuatan gerak islamiyah lebih menyolok di era pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini ditandai oleh munculnya beberapa harokah islamiyah garis keras, yang menginginkan syariat islam ditegakkan di Indonesia dan menolak mentah-mentah hukum positif warisan Belanda. Pergerakan ini tidak dilakukan oleh 2 (dua) aliran islam mainsteam yang ada, melainkan oleh kelompok-kelompok islam radikal semisal DI/TII, NII, dan kelompok Warman. Di bumi nusantara bagian timur terkenal dipimpin oleh Kahar Muzakkar, dan di barat dipimpin oleh SM. Kartosoewiryo.

Dari pemaparan beberapa pelaku sejarah “Perang Janur Kuning Jogjakarta”, nama Kahar Muzakkar pun ikut disebut-sebut sebagai salah satu pemimpin perebutan kemerdekaan terhadap agresi Belanda di Sulawesi. Artinya, seorang Kahar Muzakkar yang pada akhirnya dianggap sebagai pemberontak pun sebenarnya memiliki andil terhadap bangsa ini dalam merebut kemerdekaan. Namun setelah bangsa ini berangsur-angsur lepas dari penjajahan, seiring itu pulalah terjadi konflik internal untuk mendaulat republik ini agar bersyariat islam, atau dengan kata lain beberapa pihak terang-terangan ingin menjadikan status negara ini sebagai salah satu negara Islam di dunia. Dalam perjalanannya sangat disayangkan, kelompok-kelompok radikal ini menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Salah satunya adalah menghalalkan mengambil harta benda milik rakyat Indonesia sendiri. Sehingga bisa dibayangkan seperti apa isi pikiran rakyat Indonesia pada waktu itu: “keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya?”. Wallahu a’lam. Padahal kala itu juga pemerintah Indonesia masih dipusingkan oleh agresi kedua Belanda tahun 1949, dan konflik kepentingan antara presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dengan salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan, Tan Malaka.

Singkat cerita, pada pertengahan era orde baru, ketegangan demi ketegangan memuncak, dimana friksi-friksi yang terjadi antara pemerintah kala itu dengan beberapa kelompok islam radikal ini akhirnya menyebabkan hampir seluruh organisasi berbasis islam di indonesia otomatis dianggap oposan pemerintah. Walhasil, kelompok-kelompok islam kecil lah yang banyak menerima imbas buruknya dari pertikaian gerakan-gerakan islam dengan pihak otoritas pada waktu itu dibanding kelompok-kelompok islam yang telah memiliki nama besar. Diantara kelompok-kelompok dakwah islam yang masih kecil pada waktu itu adalah Darul Hadits dengan beberapa kembangannya semisal YCI (Yayasan Citra Islam), KSPI (Keluarga Studi Pemuda Islam), KADIM (Karyawan Dakwah Islam), dan ASPI (Aspirasi Pemuda Islam). Darul Hadits sendiri merupakan suatu kelompok pengajian Qur’an-Hadits yang dipimpin oleh seorang ulama muda lulusan ma’had Darul Hadits di Mekkah Al-Mukarramah, Nurhasan Al-Ubaidah bin Abdul ‘Aziiz (1908-1982). Konon kelompok pengajian ini sangat peduli terhadap tauhid, akhlak, akidah, dan pemurnian tata laksana peribadatan ummat islam kala itu yang masih banyak dianggap menyimpang dari sumbernya: Qur’an dan Hadits (as-Sunnah). Ditinjau dari sisi manapun, melalui perjalanan panjang sejarah tandzim dakwah islamiyah ini, Darul Hadits eksis bertujuan untuk membetulkan seluruh sendi pengamalan ibadah rakyat Indonesia yang masih banyak menyimpang dari Qur’an dan Hadits, tanpa perlu melakukan konfrontasi dengan pihak otoritas, orde lama, maupun orde baru. Tidak seperti tudingan orang-orang yang tidak mengerti sejarah esensi perjuangan amar ma’ruf nahi munkar-nya, mereka menuding bahwa Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah ingin mendirikan ‘negara dalam negara’. Tapi sampai hari wafatnya, hal tesebut bahkan sama sekali tidak terbukti.

Kaidah keislaman para muslimin di Indonesia pada waktu itu dinilai masih banyak terikat dengan kelakuan-kelakuan peribadatan yang sebenarnya bertentangan dengan aturan-aturan Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam dengan pemaparan dalil-dalil syar’i olehnya. Era ini disebut-sebut sebagai era “Babat Alas” [1]. Suatu masa dimana perjalanan amar ma’ruf nahi munkar Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah kepada sanak famili, teman-teman, dan sejawat-sejawat ulama dilalui dengan berbagai rintangan fisik maupun metafisik, sebagai hasil dari metode amar ma’ruf nahi munkar-nya yang dikenal keras. Beliau berpesan kepada para santrinya bahwa terkadang amar ma’ruf nahi munkar itu memerlukan sikap yang tegas. Beliau pun sangat bertanggung jawab terhadap reaksi masyarakat atas metode-nya itu, dan memberi gambaran metode “babat alas” tersebut seperti ini: “gambarannya seperti ada orang yang tertidur di bantalan rel kereta api, sudah berkali-kali diperingatkan / diteriaki bahwa ada kereta yang akan lewat, ia malah terlelap tidur. Akhirnya si orang tidur tadi dibangunkan dengan cara paksa, yakni dengan diseret ke tepi agar ia selamat. Meski pada awalnya orang yang tertidur tadi marah-marah karena diseret paksa, namun bilamana ia sadar bahwa justru ia diselamatkan hidupnya, insya Allah ia akan berterima kasih”.

Sering kali syeikh memberi motivasi kepada para santrinya yang menemui banyak rintangan dan cobaan atas ‘hasil jerih payah’-nya beramar ma’ruf nahi munkar dengan beberapa gandangan (bahasa Jawa: senandung) yang salah satunya adalah gandangan “kembang turi”. Isinya kurang lebih begini: “kembang turi lak melok-melok, sego wadang sisane sore, ora peduli wong alok-alok, sandang pangan lak golek dewe”. Intisarinya adalah: jangan jatuh mental dalam beramar ma’ruf nahi munkar, jangan pedulikan orang lain yang mengolok-olok, toh urusan sandang dan pangan kita mencari sendiri, dan tidak meminta-minta kepada mereka yang mengolok-olok. Meski terkesan remeh, namun gandangan seperti ini merupakan warisan tradisi kejenakaan yang cerdas ala kyai-kyai tradisional tanah Jawa dalam berkelakar namun memiliki arti dan filosofi yang sangat dalam. Semisal teka-teki longan (bahasa Jawa: kolong meja atau kolong tempat tidur). “Apakah longan itu tetap ada jika meja atau tempat tidur dipindahkan? Jadi, apakah longan itu benar-benar ada?”. Atau semisal KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah berkelakar pada acara pembukaan website Akbar Tandjung: “Kenapa setiap orang berpidato selalu menyatakan: Mari kita panjatkan syukur? Memangnya (si) Syukur nggak bisa manjat sendiri?” (Fachry Ali, Gatra, Mei 2008).

Meski dijuluki mustadid (orang yang luar biasa) oleh sejawat-sejawat ulama, Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah bukanlah termasuk orang yang jummud (kaku), terkadang syeikh menghibur santri-santrinya sebagaimana cerita yang berkembang seperti; pernah suatu ketika dalam membangunkan santri-santrinya untuk sholatul lail atau sholat malam (tahajjud), syeikh tidak segan-segan berjoget menghibur santri-santrinya yang masih terkantuk-kantuk dengan sapu ijuk, yang syeikh gambarkan sebagaimana kuda lumping. Dari hal itulah tersirat, syeikh mencontohkan kepada santri-santrinya, bahwa dalam suasana apapun orang-orang yang menegakkan hujjatullah harus tetap gembira dan ceria, mesti dalam kondisi yang membencikan, atau dalam kondisi sedang mendapat cobaan sekalipun dari Allah Ta’ala. Sebagaimana anggota pramuka yang selalu menghibur dirinya di kala apapun: “buat apa susah? buat apa susah? susah itu tak ada gunanya”.

Masih teringat dari beberapa saksi sejarah perjalanan era “babat alas” semisal Al-Hafidz Syeikh Su’udi Ridwan rahimahullah, maupun Syeikhul Hadits Kasmudi As-Shiddiqqy bercerita bahwa seringkali Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah menerima banyak ‘bingkisan’ dari orang-orang, bahkan ulama-ulama tradisional yg tidak sepaham dengannya berupa teluh, santet, dan benda-benda ‘terbang’ aneh lainnya yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia modern. Semua itu Beliau hadapi dengan sabar, tawakkal, serta yang paling penting adalah doa. Tentang doa kepada Allah Ta’ala, dari penuturan Syeikh Nur Asnawi rahimahullah, salah satu rekan menuntut ilmunya di Mekkah-Medinah dulu, menceritakan bahwa syeikh sangat yakin akan doanya kepada Allah Ta’ala. Pernah suatu ketika di Mekkah, ada seorang temannya kelaparan tidak punya beras (makanan) untuk dimasak, akhirnya Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah berdoa agar Allah Ta’ala memberikan beras yang bisa untuk dimasak saat itu juga. Walhasil, doanya maqbul. Allah Ta’ala mengabulkan permintaannya!. Bagi kita yang awam memang agak sulit menerima cerita-cerita ‘tidak masuk akal’ semacam ini. Namun kenyataannya memang demikian, apalagi cerita ini diperoleh dari saksi hidup kala itu, Syeikh Nur Asnawi rahimahullah. Bahkan salah satu santrinya yang saat ini telah menjadi salah satu ulama di Pondok Pesantren Kertosono, Ustadz Ubaid Khairi, pernah punya pengalaman spiritual yang sama seperti Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah, yakni langsung dikabulkan doanya semasa ia dan keluarga sedang menghadapi kesulitan ekonomi. “Setelah bermunajat di dalam bis kota yang mangantar saya dan anak istri pulang ke rumah. Allah langsung memberi saya uang tunai. Bahkan saya dan keluarga bisa mempergunakan uang itu untuk keperluan sehari-hari selama kurang lebih 2 (dua) bulan...”, tuturnya tatkala ia didapuk (bahasa Jawa: dinobatkan) sebagai salah satu penyampai materi pada camping Cinta Alam Indonesia di Cikole, Bandung, beberapa tahun silam. Cerita yang sama, di zaman yang berbeda. Believe it or not.

Pada akhirnya sebagai manusia biasa, Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa pada Februari 1982 dan dimakamkan di pemakaman keluarga, Marga Kaya, Karawang, Jawa Barat. Namun demikian warisan semangatnya untuk menegakkan kalimatullah di negeri ini, agar Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam tidak didustakan oleh setiap manusia, tetap ada dalam diri sanubari masing-masing generasi penerus pejuang agama yang secara ilmu-pun masih terlampau jauh ketimbang Beliau, yang diberi julukan mustadid (orang yang luar biasa). Luar biasa, karena Beliau al-Hafidz, menguasai bacaan Qiraatus-Sab’ah, mufassir yang mumpuni, menguasai Mustholah Hadits, menguasai ilmu alat, mengerti taraf ilmu dari terminologi wajib, sunnah, makruh, mubah, menguasai ilmu dari 49 perowi hadits beserta sanad-nya yang muttashil sampai Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam, gemar bekerja keras, tidak pernah takut dengan kondisi kehidupan apapun kecuali hanya takut kepada Allah Ta’ala, seorang hamba yang sangat percaya qodarullah dan nashrun minallah, ahli dalam berdoa, ulama yang dicintai santri-santrinya sekaligus dibenci oleh orang-orang yang belum bisa menerima al-Haqq ini secara utuh dan murni, dan lain-lain. Namun jangan lupa satu hal, semua izzah itu didapatkannya atas dasar usaha, kerja keras, dan kecintaannya terhadap al-Haqq, tidak didapatkannya dengan cara santai, bersenda gurau, main-main (lahan), atau dengan istirahatnya badan. Beliau menimba ilmu agama ini sekitar 10 tahun di Mekkah-Medinah, dimulai pada tahun 1930-an sampai tahun 1941. Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah tetaplah seorang hamba Allah Ta’ala yang memiliki kekurangan. Namun kebajikan kebajikannya-lah yang mesti diambil sebagai manfaat agar berkah Allah Ta’ala tetap atas kita semua. “khoirun naasi man yanfa’uhum lin naas”, “sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya”.

Tahun berganti, zaman pun berubah. Dimana manhaj (metode dakwah) Darul Hadits yang pertama kali datang pada tahun 1941 di Indonesia, justru saat ini telah banyak orang dan kelompok dakwah yang mengadopsinya. Diakui atau tidak, dari beberapa ulasan dan website islam yang mudah ditelusuri, banyak individu-individu dan ulama-ulama zaman ini yang pada akhirnya secara jujur maupun tidak, mengerti bahwa pergerakan dakwah islamiyah mereka mempunyai kemiripan dengan apa yang dulu digerakkan oleh Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah sejak tahun 1941 di Indonesia, yaitu merujuk pada tata cara ibadah ummat islam yang hakiki, yang wajib, yang menurut sumber aslinya: Qur’an dan Hadits, tanpa harus tercampur aduk dengan adat istiadat warisan ummat Hindu-Buddha atau Animisme-Dinamisme di Indonesia, yang justru bisa menjadikan agama islam ini semakin jauh dari kemurniannya. Padahal jelas dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan agar kita selalu memurnikan agamanya... “mukhlishiina lahud diin”

Dalam salah satu buku terbitan Madani Institute, manhaj yang berasal dari Jazirah Arab dan diwariskan oleh Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah ini, dimasukkan ke dalam konteks pergerakan salafiyyah (salafism). Yaitu pergerakan islam yang menomorsatukan pemurnian islam, yang sebagaimana Rasullullah shallallahu ‘alaihi wassalaam dan sahabat-sahabatnya contohkan, sebelum akhirnya islam sendiri terpecah belah. Dengan kata lain, manhaj yang merujuk pada tata cara ibadah dari 3 generasi awal datangnya islam.

Apakah manhaj yang diadopsi oleh Darul Hadits ini disebut ahlussunnah wal jamaah, salafiyyah, atau wahhabiyyah, bukan merupakan issue yang substansial. Sebab sebagaimana kutipan nasehat Syeikh Salih Fauzan rahimahullah, “siapapun bisa menyandang gelar salafiyyun atau ahlussunnah wal jamaah, namun yang penting adalah esensinya ibadahnya”. Tapi lucunya, kabarnya Darul Hadits dulu sempat diberi beberapa julukan yang nyeleneh oleh orang-orang yang tidak sepaham, dengan julukan semisal: Jamaah mbah Syuro, Jamaah Takfir, Neo-Khawarij, Islam Puritan, Islam Jawa, Islam Murni, Wahhabi, PKI putih, dan lain-lain. Namun hal itu tidak lantas menyurutkan potensi amar ma’ruf nahi munkar sampai saat ini. Karena memang itulah cobaan menjadi manusia yang beriman secara konsekuen kepada Allah Ta’ala. Sangat cocok dengan dalil ini... “huffatul jannati bil makarih, wa huffatun naari bis syahwat”, “surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang membencikan... dan seterusnya”. Artinya, tidak mudah mencari surga Allah Ta’ala. Pasti ada rintangan dan cobaan.

Namun pastinya, hingga sekarang soal penjulukan, gelar, atau penisbatan, kosa kata al-Manshuuriin, atau Thaifah al-Manshuurah (golongan yang mendapat pertolongan Allah Ta’ala) lebih disukai bagi hampir seluruh individu generasi penerus Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah, daripada penggunaan kosa kata Salafi, Wahhabi, Ahlussunnah Wal Jamaah, Madzhabiyyah, atau penisbatan lainnya. Sesuai pula dengan dalil dalam kitabullah yang menyebutkan... “haqqun ‘alaina nunjil mu’miniina”, dan hujjah ini... “maa yaf’alullohu bi ‘adzaabikum in syakartum wa aamantum”, “wajib atas Kami (Allah) menolong orang-orang yang beriman”, dan lain-lain. Tidak masalah dengan urusan julukan, karena pada akhirnya, yang penting adalah bagaimana tata cara ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Julukan apapun tidak bisa dijadikan bekal bagi seseorang untuk berhasil masuk surga, dan terselamatkan dari api neraka. Hanya amal ibadah dan atas rahmatNya-lah yang menjadi penentu suksesnya manusia di kehidupan akhirat nanti kelak.

Demikian sekilas cerita mengenai sosok Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah, yang mungkin hal ini bisa jadi merupakan suatu ikhtiar pemulihan nama baik terhadap berita-berita miring yang selama ini berkembang mengenai diri dan metode dakwahnya, yang pada kenyataannya malah bertentangan dengan apa yang telah syeikh perjuangkan sampai akhir hayatnya. Suatu ikhtiar yang diilhami oleh “Surat Surat Bersih Diri Muhammad bin Abdil Wahhab”.

Sehubungan dengan hal ini, sebagai referensi agar kita lebih mengerti seperti apakah sosok seorang ‘alim ulama (ahli ilmu) yang dipandang berkualitas, hebat, atau mumpuni, Imam al-Shatibi rahimahullah lebih jauh telah menarik kesimpulan, bahwa ada 3 (tiga) karakteristik pokok seorang ulama yang dipandang berkualitas, hebat, atau mumpuni:

1) Ia melaksanakan apa-apa yang ia ucapkan/ajarkan.

Telah terbukti bahwa Beliau selalu konsekuen menjalankan apa-apa yang ia ajarkan kepada santri-santrinya, tentunya semua yang sesuai dengan kaidah Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan Allah-Rasul. Bahkan para santrinya meniru apa saja yang Beliau lakukan dalam beribadah kepada Allah, dikarenakan mereka (santri) yakin bahwa amalan Beliau tidak lepas dari Qur’an dan Hadits. Hal tersebut bukan termasuk taklid membabi buta, karena selalu diiringi dengan ilmu. Bahkan menurut kesaksian para orang-orang terdahulu yang pernah se-zaman dengannya, Beliau mengeluarkan sayembara yang berlaku sampai akhir hayatnya: Beliau bersedia memberikan motor bagi siapapun yang mengetahui bahwa ada amal perbuatannya yang tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam. Subhanallah.

2) Ia sendiri mendapat ilmu langsung dari ulama-ulama terpercaya dan mumpuni dalam kapasitasnya sebagai ahli ilmu.

Dalam sanad-nya secara tersurat beliau langsung menimba ilmu atau berguru langsung dengan para Masyaikh Darul Hadits Mekkah Al-Mukarramah yang mu’tabar semisal Syeikh Umar Hamdan (Abu Hafs Umar ibn Hamdan ibn Umar ibn Hamdan al-Mahrasi At-Tunisi Al-Maghribi al-Madani Al-Maki rahimahullah), atau Syeikh Abu Samah Abdul Dhohir (Muhammad Abdul Dhohir ibn Muhammad Nuruddin Abu Samah At-Talini Al-Mishri Al-Makki), dan lain-lain secara manqul [2] (as-sama’ dan munawalah).

3) Santri-santrinya mengikuti apa yang ia ajarkan. Jika santri-santrinya malah cenderung meninggalkannya, hal ini otomatis menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan apa yang ia ajarkan. (ibid)

Alhamdulillah hingga saat ini semakin banyak individu-individu, yang atas jasa Beliau pula lah, saat ini mereka telah menjadi mubaligh-mubalighot yang tersebar tidak hanya di Indonesia, namun juga di negara-negara regional seperti Australia, Singapura, Malaysia, Suriname, Vietnam. Bahkan ilmu yang dibawanya dulu dari Mekkah-Medinah, saat ini telah sampai pula di benua Amerika dan Eropa. Mereka tetap memegang apa yang telah syeikh ajarkan kepada mereka, yaitu ilmu agama yang murni berdasarkan Qur’an dan Hadits secara manqul, musnad, dan muttashil. Mereka tetap memiliki kesamaan pergerakan dakwah seperti Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah: amar ma’ruf nahi munkar, basyiiran wa nadziiran, dan lillahi ta’ala demi tujuan mulia: “wa tilkal jannatul-latii uurits-tumuuhaa bimaa kuntum ta’maluun”, “dan demikian surga itu diwariskan sebab apa-apa yang kalian perbuat (di dunia)”.

Mudah-mudahan semangat al-Manshuuriin yang pernah dicontohkan Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah ini tetap melekat pada diri generasi penerus mu’miniin yang mencintai Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam diatas segalanya. Amiin Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram. Mohon maaf bilamana ada kesalahan. Semua kesalahan dalam penulisan ini pastinya berasal dari diri penulis, namun semua kebenaran tetap berasal dari Allah Ta’ala.

Wallahu Musta’an.
Walaa hawlaa walaa quwwata illa billah.



glossary

[1] Babat Alas: istilah dalam bahasa Jawa yang arti harfiahnya adalah “pembukaan lahan hutan” yang bisa dipergunakan sebagai lahan pertanian, atau agar bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna lainnya semisal perumahan, dan lain-lain.

[2] Manqul means transmitted sciences. It includes knowledge which is understood through study and by going back to the founder of the science and his/her followers through a recognised chain of transmission (isnad). It includes religious science, for example, ‘ilm Al-Hadith, the Science of the Hadith. (Egyptian Science in Medieval Arabic Sources).

Selasa, 31 Maret 2009

MEMBINA SANTRI SECARA KAFFAH



Membina Santri Secara Kaffah

Pondok Mini Al-Kautsar Cirebon hingga kini telah mencetak lebih kurang 1.000 orang dai dan daiyah. Mereka mengabdi dan mengembangkan profesinya di tengah-tengah masyarakat, yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahkan bagi yang mempunyai kompetensi berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, mereka ada yang berdakwah sampai ke Luar Negeri, seperti Australia, Suriname, dan Malaysia, sebagai “Muballigh Internasional”.

BILA Anda menyusuri kawasan jalan terusan Pemuda, khususnya ketika memasuki kompleks perumahan “Binawan” yang tergolong mewah di Kota Cirebon, lebih kurang seratus meter sebelum Kampus UNTAG 1945, berdiri kokoh masjid bertingkat dua yang berkubah. Dengan gaya arsitektur yang khas, bertiang penyangga sangat kuat berwarna putih, dan pada halaman masjid terdapat taman pohon kurma, sehingga mengingatkan kita suasana seputar halaman masjid Quba di Madinah. Itulah Masjid Luhur Al-Kautsar Cirebon.

Berdirinya masjid yang megah itu berawal dari gagasan segenap tokoh pendirinya yang terdiri dari berbagai kalangan, bersama beberapa ulama masyarakat Kota Cirebon. Mereka adalah H. Mulyatno (Almarhum), Ir. H. Nasija Warnadi, MM, dr. H. Soebarno Kartawinata, H. Imam Mawardi, HR. Sunaryo, SH.MM, dan Drs. H. Mansyur Pribadi, M.Ag.

Obsesi para pendiri Masjid Luhur Al-Kautsar akan mencetak kaderisasi calon-calon pemimpin umat yang faham agama (tafaqqahu fiddiin). Kesadaran akan signifikasinya kaderisasi yang dicitakannya itu tentu membutuhkan wadah pembinaan khusus. Maka pada tahun 1982 didirikanlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Luhur Al-Kautsar. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Abung Koesman, Walikota Cirebon ketika itu.

Filosofis pendirian masjid yang serba guna itu, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Al-Kautsar, akan dijadikan wadah untuk melaksanakan ritual ajaran Islam secara kaffah. Ke depannya, masjid ini sudah dirancang sebagai wadah pembinaan kaderisasi yang faham agama dalam dimensi yang menyeluruh, baik agama, ekonomi, budaya, dan sosial kemasyarakatan, sebagaimana fungsi masjid di zaman Rasululloh SAW.

Pondok Pesantren Al-Kautsar, memiliki berbagai kegiatan, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Diantaranya adalah kajian tafsir Al-Qur’an dan Al-Hadits, pengenalan Ilmu Nahwu dan Sharaf, ilmu Tajwid, Tilawatil qur’an dan tujuh macam bacaan (qiraatussab’ah), ilmu Faraidz, hafalan surat-surat pendek dan doa-doa. Sedangkan untuk ekstrakurikuler meliputi apel malam untuk shalat tahajjud dan berdoa, membaca buku-buku perpustakan pondok, sepakbola, volley ball, bela diri pencak silat, tennis meja, futsal, senam santri, dll.

Bagi santri yang sudah dianggap cakap, mereka mengikuti ujian komprehensif, seleksi seluruh materi pelajaran yang telah diberikan selama mondok, yaitu penguasaan kitab-kitab himpunan Al Hadits. Seleksi tersebut bertujuan memberikan orientasi penyamaan visi dan misi sebagai dai dan daiyah, sesuai dengan harapan semula agar mereka kelak menjadi mujahid di jalan Allah (fii sabilillah), yang motivasinya hanya mengharapkan ridla Allah, dan menjadi pembaharu (mujaddid), untuk memperbaiki kehidupan umat pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.

Mereka yang dinyatakan lulus ujian, dikirim ke Pondok Burengan Kediri Jawa Timur untuk mengikuti seleksi yang terakhir. Materi ujiannya, lebih mengutamakan test perbuatan yang diamati para guru, yang terkadang tanpa sepengetahuan para santri yang tengah diuji. Diantaranya, bagaimana mengaktualisasikan praktik ibadah yang orientasinya hanya kepada Allah (star principle), yang jauh dari sifat-sifat riya’, takhayul, khurafat dan musyrik.

Para santri yang sedang menjalani test akhir ini juga akan diamati, bagaimana kemampuan mereka dalam meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW (leadership principle), baik ketika masih di internal pondok, maupun dalam hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Jadi, seorang muballigh diharapkan mampu memberi pencerahan kepada lingkungannya dimanapun mereka berpijak. Secara vertikal harus berusaha menjaga hubungan yang harmonis dengan Sang Ilahi, dan secara horizontal, juga harus berusaha menjaga hubungan yang kondusif dengan lingkungannya.

Mereka juga akan dipantau, sejauh mana kecintaan mereka terhadap ilmu, sebagai insan pembelajar yang berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Hadits (learning principle). Disamping itu juga mengenai visi jauh ke depan untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat (vision principle). Terakhir, penilaian terhadap sosial kemasyarakatan, seorang muballigh harus mampu bersinergi secara maksimal dalam segala peran (well organized principle).

Untuk memahami kandungan al-Quran dan al-Hadits, Pondok Pesantren al-Kautsar menggunakan metode mengajaran yang sangat praktis, disesuaikan dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung, alias multi metode. Sehingga dalam waktu relatif singkat, lebih kurang tujuh belas bulan, para santri dapat menguasai al-Qur'an sebanyak tiga puluh juz, dan dua belas kitab himpunan Hadits.
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Pondok Al-Kautsar mengacu kepada lima pilar pendidikan.

Pertama, learning to know, artinya belajar untuk mengetahui. Kedua, learning to be, artinya dengan belajar para santri memiliki ilmu pengetahuan sebagai bekal masa depan, yang kemudian menjadi jati dirinya. Ketiga, learning to do, artinya dengan belajar para santri bisa berbuat untuk beramal, dan memperaktekkan ilmunya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat, learning to lif toghether, artinya melalui prosesi belajar para santri yang semula tidak rukun, mereka menjadi rukun sebagai makhluk sosial dalam bermasyarakat. Kelima, learning to enjoy, artinya agar para santri senang dalam mengikuti prosesi KBM, penyajiannya harus menyenangkan dengan menggunakan berbagai metode, yang sedianya ditunjang dengan instrument dan media teknologi canggih.

Pondok Mini Al-Kautsar, hingga kini telah mencetak para dai dan daiyah lebih kurang 1.000 orang. Kini mereka mengabdi dan mengembangkan profesinya masing-masing di tengah-tengah masyarakat, yang tersebar di seluruh Nusantara. Dan bahkan ada yang diutus ke Luar Negeri, seperti Australia, Suriname, dan Malaysia. Kapasitasnya, sebagai “Muballigh Internasional”, bagi mereka yang kompeten berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. //** Drs. H. Mansyur, M.A.

Kamis, 19 Maret 2009

Belajar dari Socrates


Belajar dari Socrates

Anda kenal Sokrates? Dia adalah filsuf Yunani yang terkenal karena keilmuannya. Namun dari sekian banyak karyanya, mungkin ini salah satu cerita yang perlu kita simak darinya. Cerita ringan yang penuh arti, dan bagi yang sudah pernah membacanya silahkan mengulang dan pasti tidak akan pernah menyesalinya. Dijamin!!!

Suatu pagi, seorang pria mendatangi Socrates, dan dia berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan saringan tiga kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul," lanjut Socrates. "Sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan hal yang bagus bagi kita untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali.”

Kemudian kedua orang itu pun bersiap untuk memulai ujian. "Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah sebuah kepastian, sebuah kebenaran?"

"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda".

"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Hmm... sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk".

"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar. hmmm... Baiklah Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

Mari bandingkan dengan dalil-dalil:
”Tetapilah atas kalian panjangnya diam kecuali dengan kebaikan.”(alhadist)
’Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.’ (alhadist)

”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” An-Nisaa : 114.

Banyak diantara kita terkadang melakukan hal-hal yang tidak berguna, walaupun dengan alasan kill the time misalnya. Dan kalau dihitung jumlahnya, mungkin banyak sekali. Dan saringan tiga kali ini mungkin bisa mengingatkan kita, setidaknya menjadi traffic light untuk sekedar bicara. Bukan hanya untuk menerima berita, namun juga saat kita akan menyampaikannya. Silahkan mencoba.

Was-salaamu alaikum


Fami (lagi meeting di Jkt)

Kamis, 05 Maret 2009

Ngantuk



Menurut kaca mata saya, banyak jamaah jumat yang pada ngantuk saat mendengarkan khutbah. Termasuk saya di dalamnya. Tentu. Nggak pakai basa - basi. Memang kenyataannya seperti itu. Mau apalagi. Suasana mendukung. Angin semilir. Di luar terik. Maka, perpindahan moda itu adalah pemicu utama untuk ngantuk. Dari panas ke dingin. Sepoi – sepoi. Dan panca indra merespon dengan cepat:get rest. Tes, tes, tes,,,,,,,,,,,,,. Padahal ada khutbah. Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Huroiroh ra. berkata, Rasululloh SAW bersabda, “Barangsiapa berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya, lalu menghadiri Jumat, lalu dia diam dan mendengarkan, maka diampuni baginya antara Jumat ini sampai Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang menyentuh kerikil maka telah melakukan perbuatan yang sia – sia (lahan).” Nah, yang pengin saya komentari adalah pengertian diam dan mendengarkan, apakah didalamnya boleh ngantuk? Sebab diriwayat lain disebutkan kalau qalam diangkat jika seseorang itu tidur atau tertidur. Tidak menutup kemungkinan tidur sambil duduk, saat mendengarkan khutbah bukan? Di dalam Himpunan Kitabul Ahkam halaman 33, No hadits 61 (di kitab saya, mungkin di himpunan Anda tidak ada nomernya) ada sebuah riwayat yang dicuplik dari Sunan Abi Dawud Kitabul Al-Hudud, dari Ali dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Qolam (pena) diangkat dari tiga keadaan, (pertama) dari orang yang tidur sehingga bangun, (kedua) dari anak – anak sehingga baligh dan (ketiga) dari orang yang gila sehingga waras atau berakal.” Pengertian diam dan mendengarkan secara harfiah bisa dikatakan kalau orang itu sadar dari mulai sampai rampung khutbah. Nggak ngantuk atau sibuk sendiri (ngalamun) sehingga melupakan khutbah. Karena tujuannya agar bisa memahami apa yang disampaikan di dalam khutbah. Nah, maksud dari penyampaian dua hadits di atas adalah agar kita lebih hati – hati dalam menghadiri sholat Jumat. Jangan sampai pahala yang dijanjikan; akan diampuni 10 hari dari Jumat ini sampai Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari, menjadi berkurang, muspro atau sirna sama sekali. Gara – gara kita ngantuk, bahkan tertidur sewaktu mendengarkan khutbah. Kiat agar tidak ngantuk dalam khutbah adalah sebagai berikut:
Angkat pandangan kepada Khothib. Dulu sewaktu di Pancoran, khothib sebelum khutbah selalu mengingatkan akan hal ini. Jika kita bisa memandang khotib dari awal sampai akhir, insya Allah dijamin tidak ngantuk.

Geser tempat duduk. Jika sudah merasa ngantuk, bergeserlah ke depan atau ke belakang dari tempat duduk kita. Jangan ke samping, karena akan mengganggu teman duduk kita. Juga jangan malah bersandar. Bersandar akan lebih cepat menambah kantuk. Dengan pergeseran ini insya Allah akan mengurangi efek kantuk. Karena ada kejutan motorik, sehingga mata terbelalak kembali.
Sebenarnya ada satu lagi (menurut pandangan saya) sebagai pemicu kantuk saat khutbah. Yaitu kegiatan ngejar sholat tasbih sebelum khutbah jumat. Bagi mereka, patut kita apresiasi atas mempersungguhnya. Akan tetapi lebih baik lagi kalau bisa mengerjakan sholat tasbih jauh sebelum khutbah jumat. Atau setelah sholat jumat. Karena dengan diforsir ngejar sholat tasbih, setelah selesai sholat, tubuh dalam keadaan relaksasi dan akan cepat mengantuk. Karena cenderung diam dan kelelahan. Itu pengalaman saya. Oleh karena itu, sama – sama mempersungguhnya kerjakanlah sholat tasbih pada malam jumatnya. Kalau memang bisa. Sedangkan sebelum khutbah dan sholat jumatnya, kita persungguh untuk mendapatkan ampunan Jumat ini sampai Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari. Jangan sampai mburu uceng kelangan deleg. Karena yang wajib adalah khutbah dan sholat jumatnya, bukan sholat tasbihnya bukan? Jadi, penegasan agar bisa mendapatkan pahala ampunan 10 hari dari Jumat ini sampai Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari adalah tidak ngantuk dan tidak lahan. Mari meraihnya.

By Fami, Jambi - MilisJokam

Imam Bukhory


Imam Bukhory

Siapa tak mengenalnya. Di jagad ilmu hadits, dialah orangnya. Seorang pakar – ahli peneliti utama. Professor. Dan cerita mengenainya, selalu menarik. Senang mendengarkannya. Dan khusyuk menyimaknya. Karena ta’dhim kita kepadanya.

Tahun 1992, ketika asrama Shohih Bukhory di Bogor, Pak Eko Pakubumi bercerita bahwa dalam penulisan setiap hadist di dalam Al – Jami’ Ash -Shohih, Imam Bukhory mendahuluinya dengan mandi junub dan sholat dua rekaat. Padahal dalam kitab tersebut terhimpun sekitar 600.000 hadits. Allahu Akbar. Luar biasa. Imam Bukhory berkata, “Setiap hadits yang akan aku tulis di dalam Al – Jami’ ini, aku mandi dan sholat dua rekaat sebelumnya.”

Tahun 2007 dalam sesi penerobosan, Pak Imam Suparto membeberkan lagi cerita Imam Bukhory ini. Akan tetapi dari sisi lain, yaitu kekuatan hafalannya. Dimana pernah suatu ketika, Imam Bukhory ditest oleh pakar hadits di Khurasan dan Baghdad. Mereka ingin menguji apakah benar, kabar bahwa beliau itu hafal lebih dari 70.000 hadits. Saya penasaran dengan cerita itu, dari manakah sumbernya? Sekian tahun baru saya menemukannya, salah satunya ada di mukadimah Adabul Mufrad. Inilah cerita selengkapnya.

Ahmad Ibnu Adi berkata, “Saya banyak mendengar dari syaikh – syaikh yang bercerita bahwa suatu ketika Imam Bukhory mendatangi kota Baghdad.” Terdengarlah kabar kedatangannya oleh para pakar hadits, lalu mereka berkumpul untuk menguji kemampuan hafalan Imam Bukhory. Mereka mencampur – adukkan dan saling menukar matan dan sanad 100 hadits. Dari keseratus hadits itu diberikan kepada 10 orang penanya, masing – masing orang kebagian 10 hadits dan akan mengajukannya kepada Imam Bukhory dalam sebuah majelis yang akan disaksikan oleh para pakar hadits dari Khurasan dan Baghdad. Setelah mereka berkumpul, majulah satu per satu diantara 10 orang penanya tersebut dan mengajukan pertanyaan tentang hadits yang telah dicampur – aduk matan dan sanadnya.

Setiap pertanyaan dari 10 pertanyaan penanya pertama diajukan, jawaban Imam Bukhory sama, “Saya tidak mengetahui tentang hadits itu…!” Para ulama yang hadir, satu sama yang lain saling menoleh dan memandang sambil berkata, “Orang ini telah paham…!” Sebagian yang lain menganggapnya lemah dan kurang paham. Setelah itu penanya berikutnya mengajukan pertanyaan – pertanyaan dan jawaban Imam Bukhory pun tetap sama, “Saya tidak mengetahui tentang hadits itu…!” hingga semua pertanyaan selesai diajukan.

Kemudian Imam Bukhory menoleh ke penanya pertama tadi dan berkata, “Adapun hadits pertama yang kamu ajukan tadi yang benar begini,,,, yang kedua begini, yang ketiga begini, dan seterusnya sampai selesai!” Imam Bukhory mengembalikan matan dan sanad hadits yang diacak – acak itu kepada porsi yang benar. Nggak kurang, nggak lebih. Begitu pula terhadap penanya kedua, ketiga dan selanjutnya sampai yang terakhir, hingga orang – orang mengakui kekuatan hafalannya dan menghormatinya.”

Nuansa yang indah. Menggugah. Bagi kita yang mau berbenah. Kita belum ada apa – apanya. Namun setidaknya dengan mengingat dan tahu ceritanya membuat kita sadar untuk terus belajar dan belajar. Menyisihkan waktu. Mengencangkan tekad. Di tengah menggilanya dunia dengan euforianya. Semoga tidak melindas kita.

By Fami - Jambi