Wanita itu seperti tulang rusuk, jika engkau keraskan maka ia akan patah, namun jika engkau biarkan maka ia akan tetap bengkok.
Wanita itu adalah mahluk yang unik. Bahkan beberapa orang mengatakan kalau “women is the greatest mystery in this world”. Tak kan pernah habis penelitian dan pembahasan mengenai wanita. Tak kan pernah cukup dan tak kan pernah usai pembicaraan mengenai wanita.
Suami sebagai nahkoda rumah tangga diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan para awak kapalnya dalam menuju keridhoanNya. Dan wanita atau istri berada dalam tanggung jawab tersebut.
Salah satu keunikan seorang wanita adalah dia tidak boleh dikeraskan. Maka itu dalam banyak sejarah para Nabi yang mulia, tidak pernah kita baca mengenai kekerasan dari diri mereka terhadap istri-istrinya, meskipun terkadang kekurang ajarannya sangatlah tidak masuk di akal, sebagaimana dicontohkan oleh istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS.
Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". (QS. AT Tahrim:10)
Namun apakah kita pernah mendengar bahwa mereka pernah dikeraskan oleh para Nabi ?
InsyaAllah Satu-satunya kekerasan dalam rumah tangga keluarga para Nabi yang pernah dilakukan adalah pukulan seratus cambukan dari Nabi Ayub As kepada istrinya (itupun sifatnya mendidik dan tidak merusak/membahayakan).
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shaad:44)
Itupun memukulnya menggunakan rumput. Seberapa sih sakitnya dipukul menggunakan seikat rumput setangan? Kalaupun yang digunakan adalah rumput gajah, tetap saya yakin tidak akan terlalu sakit.
Jangankan kepada istri mereka, kepada pembantu yang mereka milikipun, para Nabi tidak pernah memarahi, apalagi memukul. Demikian yang diungkapkan oleh Anas RA, mengenai Rasulullah Muhammad SAW.
Namun jangan sampai terlena, sebab wanita itu seperti tulang rusuk, jika tetap dibiarkan, maka ia akan tetap bengkok. Namun jangan pula dikeraskan, jika dikeraskan ia akan patah.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahriim:6)
Semoga Allah paling manfaat barokah.
Ketika kita hendak berbicara dengan orang lain. Berbicara sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, "Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam." (HR. Bukhari).
”Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Ibnu Hibban).
”Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam”. (HR. Ahmad)
Berbicara dengan Lemah Lembut, "maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" (QS. Thaha: 44)
Bernilai Sedekah Jika Ucapan itu Santun,"Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun." (HR. Bukhari).
Tidak Banyak Bicara, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai banyak bicara, menghambur-hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya" (HR. Bukhari)
Berhati-hati dalam Berbicara, Berhati-hatilah dalam berbicara. Karena berbicara ini, bisa membawa kita sampai ke neraka. Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesiasiaan dan dosa semata.
Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari Kiamat adalah para penceloteh lagi banyak bicara." (HR. Tirmidzi) .
Tidak Ghibah, "…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat : 12).
Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai." (HR. Muslim)
Tidak Mengadu Domba, Hudzaifah Radhiyallahuanhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak Berbohong,"Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung kepada neraka. Dan orang yang suka berbohong niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari).
Menghindari Perdebatan, Sedapat mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara. Meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin sebuah istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. "Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu." (HR. Abu Daud).
Jangan Mencaci-mak, "Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia." (HR. Ad-Dailami)
Janganlah Berbisik-bisik, "Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik (bicara rahasia) dan meninggalkan orang yang ketiga (karena hal tersebut akan menimbulkan kesedihan dan perasaan tidak enak baginya)." (HR. Bukhari)
Tak Memotong Pembicaraan, "Suatu hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, ia langsung memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu baru beliau mencari si penanya tadi." (HR.Bukhari)
Hindari Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang buruk,"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan yang lain. Karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) itu. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Hujurat : 11).
Menjaga Rahasia,"Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecuali Allah menutupi (pula) rahasianya pada hari Kiamat." (Riwayat Muslim).
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS. Al-Mujadilah: 9)
Sama-sama mengeluarkan energi, berbicaralah yang baik, pahit madu, empan papan adepan.
Semoga manfaat dan barokah

Walau jemari tak kuasa berjabat
Setidaknya kata masih dapat tulus terungkap
Mohon maaf segala kesalahan dan kekilafan
"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Usai menunaikan shalat magrib berjamaah dan berzikir di masjid samping kontrakannya, mubaleg yang aktif itu tampak merenung cukup lama. Ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di rumahnya karena ’ditinggal’ istrinya yang mengikuti kegiatan pengajian Ibu-ibu dari pagi hingga siang hari. Sebagai mubaleg, tentu ia bukannya tidak paham betapa beratnya beban seorang istri sekaligus ibu rumah tangga. Namun, dengan menjalani sendiri seluruh pekerjaan rumah tangga hari itu, mulai dari memasak air, menyapu rumah dan halaman, mencuci piring/gelas dan pakaian, memasak dan menyediakan makan bagi anak-anaknya, memandikan mereka, mengantar mereka ke sekolah sekaligus mendampinginya (karena ada yang duduk di TK), mengasuh mereka sekaligus menenangkan mereka jika sesekali menangis dan rewel, melerai mereka saat mereka bertengkar dll, benar-benar pekerjaan yang amat menguras energi. Itu baru satu hari dan itu pun tidak sampai sehari penuh. Bagaimana kalau harus tiap hari ? Bisa-bisa stres! Karena itu, mubaleg itupun makin menyadari betapa tanpa kehadiran istri, mengurus rumah tangga dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu ternyata tak seenteng yang ia bayangkan.
Sejak itu ia pun mulai menyadari, betapa ia kadang egois. Sebagai suami dan kepala rumah tangga ia merasa yang paling capek karena mencari nafkah, mengajar, mengurus jamaah, dll. Ia merasa, dirinyalah yang paling sibuk sehingga sedikit saja istri kurang dalam hal pelayanan kepadanya, entah karena dianggap lamban, atau rumahnya sedikit berantakan, atau masakannya sedikit kurang enak, dll, ia gampang mengeluh, bahkan mencela.
Kini, di tengah-tengah perenungannya, ia pun amat menyesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi pipinya. Usai salat magrib itu, ia menyadari betapa ia sering berbuat tidak adil terhadap istrinya. Sejak itu, ia mulai bersikap sabar dan tak mengeluh lagi jika dalam pandangannya istrinya kurang dalam melayani dirinya atau mengurus rumah tangganya.
Seorang suami memang pantas untuk menghargai, menghormati, memuliakan dan menyayangi istrinya betapapun dalam pandangannya, istrinya itu banyak kekurangannya. Sebab, jika pun ukurannya dikembalikan pada standar materi, pekerjaan menjadi seorang istri/ibu rumah tangga sesungguhnya amat mahal.
Disisi waktu jelas sangat menyita banyak waktu dari pagi hingga pagi lagi tak henti-hentinya menyiapkan segala sesuatunya baik untuk anak-anak dan suaminya.
Dari sisi materi juga tak terhitung banyaknya, disebutkan di salah satu website bahwa setelah dilakukan survei kepada 18.000 ibu rumah tangga di Toronto, Kanada, mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari (seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak, mengurus keluarga, dan sebagainya), sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan nilai, harga dan gaji yang pantas atas “pekerjaan” para ibu rumah tangga ini bila mereka digaji. Di Kanada, dari sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik, seorang ibu rumah tangga jika digaji secara layak pendapatan perbulannya bisa mencapai $ 124.000. Jumlah itu setara dengan Rp 1.116.000.000,- (satu miliar seratus enam belas juta rupiah). Ini bila kurs $1= Rp 9.000,- saja.
Karena itu, “Sebuah kesalahpahaman yang sangat jamak jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih mudah dan lebih ringan daripada menjadi seorang wanita karir,”.
Jika sebesar itu nilai “profesi” sebagai seorang ibu rumah tangga, maka secara berseloroh kita bisa mengatakan, betapa tidak cerdasnya seorang istri/ibu sampai rela mengorbankan urusan keluarga/ rumah tangganya hanya karena sibuk bekerja dengan gaji yang tentu tidak seberapa dibandingkan dengan nominal di atas. Lebih tidak cerdas lagi jika seorang suami menganggap rendah istrinya, tidak mau menghargai dan memuliakan istrinya, hanya karena ia banyak di rumah sekadar menjalani “profesi”nya sebagai ibu rumah tangga.
Itu dari sisi materi. Bagaimana jika dilihat dari kacamata Islam? Dalam pandangan Islam, seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab penuh atas seluruh urusan keluarga/rumahtangganya karena posisinya sebagai umm[un] wa trabbah al-bayt (ibu sekaligus manajer rumah tangga). Ia jugalah yang bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak-anaknya. Seorang penyair Arab mengatakan, ”Al-Ummu Madrasah al-Ula, Idza A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khayr al-‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik maka sama halnya dengan engkau mempersiapkan bangsa berakar kebaikan).
Lebih dari itu, betapa mulia dan terhormatnya kedudukan seorang istri/ibu rumah tangga tergambar dalam hadis dari Anas ra. : Kaum wanita pernah datang menghadap Rasulullah saw. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah amal perbuatan untuk kami yang dapat menyamai amal para mujahidin di jalan Allah ?” Rasulullah saw. menjawab, “Siapa saja di antara kalian berdiam diri di rumahnya (melayani suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengurus rumah tangganya), sesungguhnya ia telah menyamai amal para mujahidin di jalan Allah.” (Al Hadits).
Karena itu, tak ada alasan bagi para suami, untuk tidak memuliakan dan menyayangi istrinya dengan setulus hati.
Semoga Allah paring manfaat dan barokah bagi kita semua.
Selain kita diwajibkan untuk taat kepada Allah dan Rosul. Kita juga diwajibkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وا عبدوا الله ولأ تشر كوا به شيئا وبااولدين احسنا
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua ... "(an-Nisâ`ayat 36).
Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam surat Luqmân ayat 14:
وو صينا الأنسن بو لد يه
"(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tua, ...)"
Selanjutnya Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:
حملته أمه وهنا على وهن
"(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)".
Yakni keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya sebelum kemudian menyapihnya.
Kemudian Allah berfirman:
وفصله فى عا مين أن اشكر لى ولو لد يك الى المصير
"(dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada ke dua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)".
Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari 'Abdullâh bin Mas'ûd, ia berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Aku bertanya kepada Nabi; "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab,"Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.”
Allah Subhanhu wa Ta'ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh untuk berbuat kufur maka seorang anak tidak boleh mentaati perintah kufur ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya :
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(Luqmân :15).
Cara berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.
Berbuat baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan penghormatan/mengagungkan.
Berbuat baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita.
Berbakti kepada kedua orang tua yang telah Iman tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
"Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab,"Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan teman-temannya". [HR Abu Dawud].
Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut.
Merekapun kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata :
Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka berdua.
Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai, ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku.
Ya Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami ini.
Maka batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa, bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Sebagai seorang anak sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini sangat besar.
Apabila telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan fisik maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan, sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak, meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun perbuatan di hadapan keduanya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi dan merawat si anak tatkala masih kecil.
Sang ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai balasan atas kebaikannya.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab: "Bapakmu."
Semoga Allah paring manfaaat dan barokah.
Bogor, Minggu 20 Juni 2010
LEMBAGA Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Bogor, Minggu (20/6/2010) pagi hingga sore hari, telah melaksanakan Festival Anak Muslim 2010 (Gala Cabe Rawit) sebagai salah satu sarana untuk mengevaluasi hasil pembinaan bagi generasi penerus (generus) di kalangan warga LDII yang telah dilaksanakan hingga pertengahan tahun 2010. Festival Anak Muslim 2010 tersebut dilaksanakan melalui kerjasama antara DPD LDII Kota Bogor dengan PC LDII Kecamatan Tanah Sareal dan Ikatan Remaja Masjid Nurul Iman, Budi Agung.
Festival Anak Muslim 2010 kali ini yang dilaksanakan sekaligus dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, mengambil tema “Menuju Generasi Muda Islam Yang Religius,” kata Wahyu Purnomo yang menjadi Ketua Pelaksana festival. Lebih lanjut Wahyu menyatakan “Peserta festival merupakan perwakilan anak-anak dari PAC LDII Kelurahan Cibadak, Kayu Manis, Kebon Pedes, Kedung Badak, Kedung Waringin, dan Sukaresmi.” Hadir dalam acara festival perwakilan dari Kecamatan, Kapolsek, dan Danramil serta Ketua MUI Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, tambah Wahyu.
Dalam sambutan pada pembukaan festival, H. Iskandar, MM - Ketua PC LDII Kecamatan Tanah Sareal yang mewakili Ketua DPD LDII Kota Bogor menyatakan bahwa Festival Anak Muslim 2010 diadakan sebagai tindak lanjut pembinaan generasi penerus di kalangan warga LDII. “Hasil pembinaan generous yang telah dilakukan selama enam bulan dievaluasi dalam acara festival ini, yaitu dengan mengadakan berbagai lomba dan festival budaya.” Lebih lanjut Iskandar menyatakan bahwa peserta festival sengaja dibatasi untuk anak-anak yang berumur 10 tahun ke bawah. “LDII telah melakukan pembinaan generasi muda untuk memberikan pemahaman tetang tata cara beribadah sedini mungkin, sehingga pada saat mencapai umur 10 tahun mereka telah mampu melaksanakan berbagai bentuk ibadah yang menjadi kuwajiban bagi umat Islam, tambah Iskandar.
Ketua MUI Kecamatan Tanah Sareal, Drs. Mahdi Marzuki, MM., dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap acara yang dilakukan oleh LDII. Pembinaan umat memang harus dilakukan sedini mungkin sehingga ketika beranjak dewasa mereka telah mempunyai dasar kefahaman agama yang kuat, ungkap Marzuki. “Saya sangat mendukung kegiatan festival dan kegiatan pembinaan generasi muda yang dilakukan oleh LDII dan berharap agar kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya,” tambah Marzuki.
Selain berbagai lomba dan penampilan seni budaya, festival kali ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan pencak silat yang dilakukan oleh Perguruan Persinas ASAD, yang pesertanya berasal dari kalangan anak-anak warga LDII. Pagelaran seni bela diri pencak silat, selain bertujuan untuk meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap budaya bangsa sendiri juga untuk melatih kedisiplinan dan keberanian anak-anak agar dapat menjaga dirinya dalam kondisi lingkungan yang seringkali rawan bagi mereka, tambah Iskandar.
Secara terpisah Dr. Ir. H. Radjab Tampubolon – sebagai Ketua DPD LDII Kota Bogor menyampaikan bahwa sejak awal tahun 2010 LDII telah mencanangkan pentingnya pembinaan generasi penerus di kalangan warga LDII. “Di LDII, pembinaan generasi penerus dimulai sejak usia dini (“cabe rawit”) hingga 10 tahun, kelompok pra-remaja hingga usia 16 tahun dan remaja usia > 16 tahun.” Untuk melancarkan pembinaan kefahaman agama generasi penerus, LDII bahkan telah membentuk Tim Penggerak Pembina Generus (TPPG) yang bekerjasama dengan pengurus LDII dan segenap orang tua warga LDII dalam rangka menyukseskan pembinaan generous, tambah Radjab.
Sambutan oleh Ketua PC LDII (H. Iskandar, MM) dan Ketua MUI (Drs. H. Mahdi Marzuki, MM) - Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor; serta Pengurus PC LDII dan perwakilan Muspika yang terdiri atas Kapolsek dan staf Danramil Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Perwakilan peserta Festival Anak Sholeh 2010, lomba cerdas cermat pengetahuan agama, dan penampilan seni budaya, serta penerimaan piala bergilir dari PC LDII Tanah Sareal oleh perwakilan peserta dari PAC Kelurahan Kebon Pedes yang menjadi juara umum Festival Anak Sholeh 2010, yang diselenggarakan oleh PC LDII Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
sumber:DPD LDII Kota Bogor/PC LDII Kecamatan Tanah Sareal.
Acara Pencanangan LDII Go Green insyaAlloh akan dilaksanakan pada hari Senin, 21 Juni 2010 di Makasar, Sulawesi Selatan, yang akan dihadiri oleh Pengurus DPP LDII, perwakilan DPD LDII Provinsi seluruh Indonesia, tokoh-tokoh masyarakat, dll.
Dalam Acara tersebut insyaAlloh juga akan dihadir Gubernur Sulawesi Selatan, Walikota Ujung Pandang. Sementara saat ini panitia sedang mengupayakan Prof. Emil Salim dan Menteri KLH untuk hadir sebagai Keynote Speech dan meresmikan pencanangan tersebut. Selain kegiatan ceremonial, pada hari itu juga akan digelar pameran kegiatan yang telah dilaksanakan oleh warga LDII di berbagai provinsi terkait penghijauan dan lingkungan serta juga akan dilaksanakan workshop penghiajaun. Mohon doanya agar acara dapat terlaksana dengan lancar, aman, selamat dan barokah bagi kita semua.
http://ldiigogreen.blogspot.com