Rabu, 28 September 2011

GAPLEK PRINGKILAN "WIS TUWEK KOK PETAKILAN"





“Gaplek Pringkilan wis tuwek kok pethakilan” maksud dari parikan di atas adalah untuk menyindir seseorang yang sudah berumur tetapi kelakuannya masih kurang pas dengan usianya.

Seharusnya kalau usia sudah tua, sisa umur ini diisi dengan menyibukkan diri untuk beribadah kapada Allah. Bukan malah menyibukkan dirinya dengan urusan urusan hasrat dunia.

Banyak manusia terpedaya dengan luangnya waktu atau kesempatan, padahal itu adalah anugerah dari Allah, banyak diantara mereka melewatkan kesempatan umur dengan sia-sia atau bahkan diisi dengan kemaksiatan, lahan lahan dan sesuatu yang tidak bermanfaat, sungguh benar apa yang telah disabdakan Rasulullah SAW :

“ Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu didalamnya (tidak memanfaatkannya dengan baik), yakni kesehatan dan kesempatan (umur) “. (HR. Al Bukhori, At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Kita berharap usia tua dengan perjalanan hidup yang semakin panjang membuat manusia semakin memiliki kematangan jiwa sehingga semakin mampu menyikapi kehidupan dunia yang sementara ini yang membuatnya tidak mudah terjebak oleh arus kehidupan dunia yang hijau dan manis ini.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa usia tua ternyata tidak menjamin seseorang menjadi orang yang memiliki kematangan jiwa, bahkan tidak sedikit orang tua yang lupa kalau ia sudah tua sehingga masih saja melakukan pelanggaran, bahkan pelanggaran yang biasa dilakukan oleh anak muda.

Karena itu, Rasulullah saw mengingatkan kita semua tentang usia tua yang harus diwaspadai, beliau bersabda: “Hati orang tua itu mudah mencintai dua hal, yaitu: cinta dunia dan harta” (HR.Muslim dan Ibnu Majah).

Di dalam hadits lain, beliau bersabda: “Hati orang tua itu mudah mencintai dua hal, yaitu: panjang umur dan banyak harta” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim).

Pada dasarnya dunia ini boleh dicintai oleh siapapun, termasuk oleh orang tua. Siapa saja boleh menikmati kehidupan dunia ini seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, wanita, kendaraan dan sebagainya. Namun menikmatinya tidak boleh dengan menghalalkan segala cara dan tidak lupa terhadap kewajiban dalam ibadah kepada Allah.

Bila untuk menikmati dunia dengan menghalalkan segala cara dan dalam menikmatinyapun sampai melupakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah, maka inilah yang disebut dengan cinta dunia.

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang sudah berusia tua menjadi begitu cinta pada dunia, padahal saat muda mereka adalah orang-orang yang memiliki idealisme terhadap nilai-nilai kebenaran.

Walaupun usia tua secara fisik sudah lemah, ternyata orang tua itu senang sekali bila diberi umur panjang untuk bisa menikmati kehidupan ini lebih lama lagi. Pada dasarnya tidak masalah bila seseorang menghendaki umur yang panjang bila dipergunakan untuk melakukan kebaikan dan ini akan membuat seseorang memperoleh derajat yang tinggi disisi Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya, baik amalnya dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya, buruk amalnya” (HR. Ahmad).

Yang harus diwaspadai adalah bila seseorang menghendaki umur yang panjang namun dipergunakan usianya itu untuk sesuatu yang tidak baik, karena hal ini akan membuatnya menjadi manusia yang terburuk dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya.

Biasanya cobaan lain bagi Lansia adalah banyak harta. Banyak harta merupakan suatu keadaan yang menyenangkan, karena dengan banyaknya harta itu, banyak yang bisa dilakukan. Kalau kita tidak bisa mensyukuri atas nikmat Allah yang satu ini harta bukannya menjadikan tinggi derajat surganya karena banyak shodakoh, tapi justru bisa terjebak didalam kerugian.

Allah swt mengingatkan dalam firman-Nya: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi” (QS. Al Munafikun 9).

Ingatlah orang yang sukses bukanlah yang banyak hartanya, akan tetapi yang menginfakkan kebanyakan hartanya di jalan Allah. Orang yang sukses bukanlah yang tinggi pangkatnya di dunia, akan tetapi yang paling baik kualitas taqwanya di sisi Allah. Orang yang sukses bukanlah yang paling banyak ilmunya, akan tetapi yang paling takut kepada Allah. Orang yang sukses bukanlah yang paling berkuasa di dunia, akan tetapi yang paling taat dan tunduk kepada Allah semasa hidup di dunia. Sukses bukanlah ditentukan dan dinilai di dunia, akan tetapi ditentukan dan dinilai di akhirat nanti.

Semoga Allah paring manfaat dan barokah

Selasa, 27 September 2011

"AKU BUKAN PENULIS"


Aku bukan penulis. Aku hanya mengeluarkan kata-kata yang ada di sel-sel otak ku.
Aku hanya bisa berharap mudah2an saja bermanfaat bagi diriku, dan bagi siapa saja yang mau membacanya.

Kadang ..
Aku takut apa yang aku tulis tidak bisa aku amalkan.
Aku takut apa yang aku tulis menjadikan polemik yang tidak berujung.
Aku takut aku dianggap orang yang berilmu, orang yang sok tau, orang yang keminter, pol dewe
Aku takut dengan niat ku .. dan masih banyak ketakutan ketakutan yang lain

Ada tulisan yang menginspirasi, mengedukasi, bahkan memprovokasi.
Entah tulisan ku masuk kategori mana. Aku tidak menganggap tulisan ku sebagai tulisan.
Melainkan hanya sebuah gambaran isi kepalaku. 






Selasa, 13 September 2011

Nabi Berlindung dari empat perkara.

Nabi Berlindung dari empat perkara.


Ada empat perkara yang begitu dahsyatnya sehingga kita oleh Nabi صلىالله عليه وسلم disunnahkan setiap kali shalat untuk berdo’a memohon perlindungan kepada الله dari empat perkara itu, yaitu :

... ... اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ . اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya akuberlindung kepadaMu dari siksa kubur. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, Sesungguhnya
aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan hutang.” (HR. Bukhari-Muslim)

1. Yang Pertama,

Rasulullah صلىالله عليه وسلم berlindung dari Azab kubur.

وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Azab kubur merupakan kehidupan
akhirat yang pertama kali. Azab kubur adalah penentuan bagi seorang hamba. Jika ia selamat di dalam kuburnya, maka ia akan lebih selamat lagi di hari akhirat kelak. Dan sebaliknya, apabila ia tidak selamat didalam kuburnya, lebih-lebih dia tidak akan selamat di dalam kehidupan akhirat kelak.

Pada saat Utsman bin Affan رَضِيَ اللَّهُ عَنْه melihat kuburan ketika berziarah, beliaupun menangis. Lalu ditanya oleh sahabatnya,”Wahai Utsman, dituturkan surga neraka engkau tidak menangis, sekarang melihat kuburan engkau menangis!” Utsman menjawab, Rasulullah صلىالله عليه وسلم pernah berkata, “Kuburan adalah rintangan pertama kali akhirat, siapa yang sekarang berhasil di situ setelahnya lebih mudah, siapa yang celaka di situ, maka setelahnya akan lebih susah. Tidaklah aku melihat suatu pandangan yang lebih mengerikan dibandingkan kuburan” (HR. Ahmad-Tirmidzi)

Disebutkan didalam hadits, Rasulullah صلىالله عليه وسلم berkata kepada Jibril dan Mikail عليه السلام asebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang,

فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا

“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab,”Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah
orang yang telah الله ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tungku, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari).

Rasulullah صلىالله عليه وسلم juga berlindung dari azab Jahannam.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ

Jahannam, ia adalah merupakan tempat kembali seburuk-buruknya tempat kembali. Hal itu telah digambarkan oleh Rasulullah صلىالله عليه وسلم dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh shahabat Abu
Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْه, “(
Panasnya) api kalian (api dunia) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya, “Demi Allah, api dunia itu sudah cukup wahai Rasulullah!” Beliau صلىالله عليه وسلم bersabda, “sesungguhnya panasnya api neraka melebihi panas api dunia sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim)


2. Yang Kedua Rasulullah صلىالله عليه وسلم berlindung dari keburukan fitnah Dajjal.

وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Dajjal, makhluk yang akan datang di akhir zaman yang diberikan oleh Allah sebagai fitnah yang besar kepada manusia. Sampai-sampai kata Rasulullah صلىالله عليه وسلم, tidak ada seorang pun nabi, kecuali memperingatkan umatnya dari bahaya Dajjal

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“Rasulullahصلىالله عليه وسلم berdiri di hadapan manusia, menyanjung الله Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata, ‘Aku memperingatkan kalian darinya, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Dajjal adalah fitnah yang sangat besar. Bagaimana tidak, Dajjal mengaku sebagai rabb, memerintahkan hujan untuk turun, lalu turunlah hujan (dengan ijin Allah), memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, lalu tumbuh tanaman, menghidupkan orang mati dan yang lainnya sebagai fitnah bagi kaum muslimin
dengan ijin Allah.

3. Yang ketiga, Rasulullah صلىالله عليه وسلم berlindung dari fitnah kehidupan dan sesudah kematian.

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati”

Fitnah hidup berupa syubhat dan
syahwat. Seorang hamba diuji oleh الله dengan syubhat (kesesatan pemahaman) dan syahwatnya.
Ujian berupa fitnah syubhat merupakan seberat beratnya ujian bagi seorang hamba karena hal itu bisa merusak agamanya. Rasulullah صلىالله عليه وسلم saja berlindung dari fitnah-fitnah tersebut. Beliau berdo,a:

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا

“(Wahai Allah) ,dan janganlah engkau jadikan musibah menimpa agama kami.” (HR. at-Tirmidzi)

Karena sessungguhnya ini adalah seburuk-buruk musibah. Seorang hamba yang berbuat maksiat, merupakan musibah dalam agamanya. Seorang hamba yang berbuat bid’ah, merupakan musibah dalam agamanya.

4. Dan terakhir Rasulullah صلىالله عليه وسلم berdo’a memohon perlindungan dari perbuatan dosa dan hutang.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
"Ya Allah, Sesungguhnya
aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan hutang.”

Dosa dan hutang terkadang dianganggap seseorang kecil dan remeh, padahal itu akan dibayar dengan amalan di akhirat kelak. Ketika Rasulullah صلىالله عليه وسلم mengabarkan bahwasanya orang yang mati syahid diampuni semua dosa-dosanya, kemudian Rasulullah صلىالله عليه وسلم pun memberikan pengecualian, yakni kecuali hutang. Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah صلىالله عليه وسلم bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah صلىالله عليه وسلم bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah No. 2414).

Semoga manfaat dan barokah.

Rabu, 07 September 2011

Adakah Cinta Sejati (Kisah Sahabat)




Dalam sejarah islam mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku ?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata :

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya.

Begitulah kisah pahit yang dialami oleh Laila bintu Al Judi ? Ataukah kita mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?

Sebagai pelajaran bagi kita semua untuk bersikap wajar dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani kita. Kepada siapakah kita harus menambatkan tali cinta kita ?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda :

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman : Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Semoga manfaat dan barokah.